JAKARTA, POTRETKITA.net - Dalam kondisi krisis ekonomi dan kesehatan seperti saat ini, ternyata kalangan wanita dari 'status sosial rendah' lebih tangguh, dibanding yang berasal dari kalangan mapan.
![]() |
| Dosen UIC Jakarta Dr. Suhardin, M.Pd |
Suhardin mengutarakan hal itu, setelah melakukan penelitian ilmiah yang dipublikasikan melalui Jurnal Pendidikan Islam Al-Ulum, dengan judul Coping Strategy Masyarakat di Tengah Pandemi Covid-19 Effect Status Sosial dan Gender: Studi Expost Facto di Jakarta.
Menurut aktivis nasional asal Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sumatera Utara itu, kaum perempuan dari strata sosial rendah telah terbiasa dengan kesusahan, sehingga membuat jiwanya kuat dengan berbagai cobaan dan rintangan kehidupan. Mereka tidak mau menyerah dan fighting dalam berjuang mengarungi kehidupan dunia.
Mereka, tegasnya, tidak memiliki obsesi hidup mewah, fasilitas banyak, entertain (hiburan), dan bermegah-megah dalam kehidupan. Hidup mereka sudah terbiasa dalam kesederhanaan, menerima dengan tulus segala yang ada, mengedepankan keikhlasan, ketulusan dalam penghasilan yang didapati.
Prinsip hidup ini, menurut Suhardin, membuat mereka tetap tegar dalam menerima cobaan dan kekurangan bahan makanan, kekurangan fasilitas dan kekurangan penghasilan. Malah ada diantara komunitas ini dapat memanfaatkan suasana pandemi ini dengan berbagai aktifitas sosial, menjual masker, menjual handsanitaizer, dan ikut menjadi relawan pembagian bantuan sosial ke tengah-tengah masyarakat.
''Aktifitas ini membuat mereka tetap bahagia dalam kehidupan, coping strategy mereka bermain dan meningkat cukup tajam dalam suasana pandemi Covid-19,'' kata Suhardin yang banyak menghabiskan usia remajanya di Kota Padang dan Padang Panjang.
Di sisi lain, jelasnya, pada status sosial tinggi, kaum lelaki lebih di depan menyelesaikan permasalahan kehidupan di dalam keluarga, perempuan lebih banyak menerima, meminta, menuntut dan membelanjakan uang. Banyak beban dan tanggungjawab berada di atas pundak lelaki untuk kebutuhan, perbelanjaan baik yang bersifat fundamental, kebutuhan finansial, kebutuhan entertain dan kebutuhan aktualisasi keluarga.
Saat mengalami kegoncangan perekonomian, lelaki lebih sigap dan siap dalam menerima permasalahan di bandingkan dengan perempuan yang terbiasa dengan sesuatu yang diadakan oleh lelaki. Traumatik psikologis lebih banyak dialami oleh perempuan yang sudah terbiasa dengan sesuatu yang ada.
Dari hasil penelitian Suhardin diketahui, sangat logis dan rasional, kaum lelaki lebih memiliki coping strategy dibandingkan dengan perempuan pada kelompok sosial tinggi.
''Dalam kajian gender juga telah dipaparkan, wanita lebih sensitif dibandingkan dengan pria, karena wanita memiliki hormon esterogen yang diproduksi oleh kalenjer adrenal dan plasenta. Hormon ini sebagian dari fungsinya mengatur mood dan suasana hati dan proses penuaan. Wanita dalam menerima sesuatu yang tidak menyenangkan langsung dibawa ke dalam perasaan sehingga mengalami kelemahan pada coping strategy yang beliau miliki,'' jelasnya.
Tetapi yang menarik, imbuhnya, pada rata-rata (mean) coping strategy responden yang lelaki pada status sosial rendah sebanyak sebelas responden sebesar 39,10 (tiga puluh sembilan koma satu) dengan standar deviasi sebesar 16,25 (enam belas koma dua puluh lima) dan standar error mean sebesar 5,00 (lima koma nol).
Pada perempuan status sosial rendah, sebanyak sebelas responden sebesar rata-rata (mean) sebesar 42,20 (empat puluh dua koma dua) dengan standar deviasi sebesar 17,30 (tujuh belas koma tiga) dan standar error mean sebesar 5,22 (lima koma dua dua). Independent sample test untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan coping strategy respondent yang lelaki dan perempuan pada status sosial rendah.
Pengujian menggunakan signifikansi 0,05. Sebelum dilakukan uji beda dua rata-rata maka dilakukan uji F (uji homogenitas), artinya jika varian sama maka uji-t menggunakan nilai Equal Variance Assumed dan jika varian berbeda menggunakan nilai equal variance not assumed. Dalam uji-F di dapat signifikant 0,85>0,05 dengan demikian bahwa data memiliki varian yang sama, dalam pengertian bahwa kelompok data homogen.
Dalam Equal Variance Assumed diperoleh signifikansi 0,68>0,05 dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikat Coping Strategy antara responden yang lelaki dan perempuan pada status sosial rendah. Dimana responden yang perempuan lebih memiliki Coping Strategy dibandingkan dengan responden yang lelaki pada status sosial rendah.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar