TANAH DATAR, POTRETKITA -- Dadiah adalah makanan asli Minangkabau. Bahan bakunya susu kerbau yang difermentasi. Dulu amat populer. Kini populer juga, tapi sudah sulit mendapatkannya.
![]() |
| Bupati Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat; Eka Putra |
Pemburu kuliner dari berbagai kota di
Indonesia, biasanya berburu dadiah ke Kota Padang, Padang Panjang, Bukittinggi
dan Batusangkar. Ada yang datang untuk menikmati sensasi cita rasa pertama kali,
menikam jejak, dan ada juga yang sekedar mengenang nostalgia masa kecil, ketika
setiap pagi disuguhi dadiah orang sang bunda.
Situs berita indonesiakaya.com menjelaskan, dadiah adalah susu kerbau yang difermentasi secara alami di dalam buluh atau ruas bambu. Biasanya, fementasi akan terjadi dalam satu hingga tiga hari. Untuk dilepas ke pasaran, dadiah itu umumnya sudah menjalani fermentasi rata-rata dua hari.
Prof. drh. Endang Purwanti, Ph.D., dari Lembaga Pembangunan Masyarakat Minangkabau (LPPM) menyatakan, dadiah yang diolah dari susu kerbau itu, masuk ke dalam jenis makanan bermanfaat dan sehat, sesuai hasil kajian ilmiah pakar dan fakta-fakta yang ditemukan di masyarakat yang mengkonsumsi dadiah.
‘’Kesehatan kita dipengaruhi komposisi mikroba di dalam usus. Mikroba dimodifikasi menjadi seimbang bila ada probiotik atau bakteri baik. Probiotik itu ada di dalam susu kerbau yang difermentasi menjadi dadiah. Berdasarkan penelitian, dadiah yang diproduksi di Tanjuang Bonai memiliki kualitas terbaik,’’ jelasnya.
Endang menyebut, berdasarkan riset yang dilakukan pakar nutrisi dan kesehatan, pemberian dadiah kepada ibu hamil, lalu berlanjut kepada anak, setelah enam bulan ternyata bisa menjadi upaya strategis mencegah stunting, yakni masalah kekurangan gizi kronis yang mengganggu pertumbuhan anak; tinggi badannya lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar anak seusia dengannya.
Secara pribadi, Bupati Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat; Eka Putra mengaku, dadiah bukanlah hal asing dan baru bagi dirinya. Sebab, imbuhnya, itu sudah menjadi makanan kegemaran sejak kecil.
Eka menyebut, dirinya dibesarkan oleh dadiah yang menjadi tradisi keluarganya, baik untuk dikonsumsi maupun dijual.
Pengungkapan itu disampaikannya saat berdiskusi dengan tim LPPM yang dipimpin Ketua Prof. drh. Endang Purwanti, Ph.D., Prof. Salam Aritonang, Dr. Susmiati, M.Biomed, dan Dr.Elly Roza, akhir pekan ini, di Batusangkar.
LPPM saat ini sedang mengembangkan peternakan kerbau di Nagari Tanjuang Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, dengan cara mengawinkan kerbau lokal dengan Kerbau Murra, untuk mendapatkan susu lebih banyak dan bermutu, sebagai bahan baku utama pembuatan dadiah.
Dengan adanya upaya LPPM melaksanakan program itu, Eka mengaku gembira, karena usaha peternakan kerbau dan membuat dadiah bangkit lagi, setelah beberapa tahun belakangan terlihat mulai lesu, bahkan terasa sulit untuk mendapatkannya di beberapa daerah di Tanah Datar.
‘’Sebenarnya program pengembangan ternak kerbau itu sudah mulai dilaksanakan sejak 2017 di Lintau Buo Utara. Kita sudah kembangkan kerbau lokal, tetapi produksi susunya sedikit, maka atas dukungan Prof. Fasli Jalal, mulai 2021 ini kita kembangkan jenis Kerbau Minang, melalui perkawinan silang kerbau lokal dengan Kerbau Murrah,’’ jelasnya.
Saat ini, imbuhnya, 20 ekor kerbau lokal milik masyarakat Nagari Tanjuang Bonai dan lima ekor milik LPPM, sedang menjalani proses sendimentasi bibit Kerbau Murrah. Mudah-mudahan, kata Endang, bisa berjalan baik dan melahirkan bibit unggul yang akan diberi nama Kerbau Minang yang menghasilkan susu lebih banyak.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar