Semoga Gempa Dahsyat nan Meremukkan itu tak Pernah Terulang Lagi... - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

15 Juli 2022

Semoga Gempa Dahsyat nan Meremukkan itu tak Pernah Terulang Lagi...

PADANGPANJANG, POTRETKITA.net - Kendati tidak ada lagi warga yang merasakan dahsyatnya gempa bumi pada 28 Juni 1926, yang menghancurkan bangunan di Padangpanjang dan Bukittinggi, serta banyak korban meninggal, namun peristiwa itu masih diceritakan dari generasi ke generasi.


Kerusakan akibat gempa 1926.(voi.id)


Gempa dahsyat lainnya yang juga membuat Padangpanjang lumpuh terjadi pada 6 Maret 2007. Ribuan rumah warga rubuh, kendati angka korban meninggal dunia bisa diminimalisir. Gempa terjadi mulai pukul 10.49 WIB dan berentetan hingga keesokannya dalam catatan BMKG berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) hingga 6,4 SR.


Gempa 28 Juni 1926 adalah yang terbesar dalam sejarah pendudukan kolonial Belanda di Sumatera Barat. Gempa yang berpusat di Padangpanjang diketahui terjadi berkali-kali, dan gempa susulannya terjadi tiap sebentar hingga mencapai rentang waktu satu pekan. Kita tentu berharap dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa, semoga gempa dahsyat nan meremukan itu tak terulang lagi....


Berdasar data National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), dua di antara gempa mencatat getaran besar. Gempa pukul 10.00 pagi berkekuatan 7,6 SR. Sementara, gempa pada pukul 13.15 siang lebih kuat, yakni sampai menginjak angka 7,8 SR.


BACA JUGAGempa Kejutkan Warga Padangpanjang dan Bukittinggi


Menurut Koran Sin Po, 9 Juli 1926, tak cuma Padang Panjang saja yang merasakan getaran. Gempa juga dirasakan orang Minangkabau di sekitar Danau Singkarak, Bukittinggi, Danau Maninjau, Solok, Sawahlunto, dan Alahan Panjang.


Akibat gempa itu, 354 korban jiwa kehilangan nyawa dan 2.383 rumah roboh. Ditambah gempa susulan yang mengakibatkan 57 orang meninggal dunia, dan 472 rumah roboh. “Getarannya cukup lama. Seketika itu juga bangunan banyak roboh dan hancur. Pada reruntuhan puing-puing bangunan itu banyak yang terjebak dan terhimpit,” tulis Koran Sin Po.


Getaran gempa menimbulkan kerusakan infrastruktur. Utamanya pada bangunan berbahan batu yang banyak bertumbangan. Salah satu bangunan yang terkena dampak adalah ikon Bukittinggi, Jam Gadang. Walau masih dalam proses pembangunan, Jam Gadang sempat bergoyang hebat hingga konstruksinya miring 30 derajat.


“Tatkala gempa besar 1926, jam ini bergoyang hebat dan miring 30 derajat. Lalu diperbaiki seperti keadaannya semula. Tinggi bangunannya sekitar 37 meter. Tapi karena letaknya di atas bukit, kelihatannya amat tinggi, terutama bila dilihat dari lembah-lembah sekitarnya. Di puncaknya terdapat bangunan rumah gadang dengan atap berbentuk tanduk kerbau. Untuk sampai di puncak ini terdapat sebuah tangga,” terpapar dalam laporan di Majalah Tempo berjudul Jam Gadang Akan Dikomersilkan (1978).


Gempa bumi memang sering terasa di Padangpanjang dan Bukittinggi, baik yang berpusat di sekitarnya maupun daerah lain yang berdekatan. Sejak 1926, tentu sudah ratusan kali warga di kedua kota bertetangga itu merasakan gempa.


Tapi bila dalam rentang waktu yang agak lama tidak terjadi gempa, maka ketika ada kejadian gempa dirasakan, warga kaget juga, seperti yang terjadi pada Jumat (15/7/2022) pukul 19.18 WIB. Gempa jenis tektonik itu, berdasarkan hasil analisis BMKG menunjukkan, gempabumi ini memiliki parameter dengan magnitudo M3.9. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 0.40 LS dan 100.27 BT  atau tepatnya berlokasi di darat pada 15 Km barat daya Bukittinggi, Sumbar pada kedalaman 10 Km.


Kepala Stasiun Geofisika Padang Panjang Dr. Suaidi Ahadi menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sumatera segmen Sianok


Guncangan gempabumi ini dirasakan di Padang Panjang, Bukittinggi III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan truk berlalu), Payakumbuh, Agam, Tanah Datar II MMI (getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI. 


Kendati hingga pukul 19:43 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan belum adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock), namun BMKG tetap merekomendasikan, kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


"Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum Anda kembali ke dalam rumah," ujarnya.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad