BENGKULU, POTRETKITA.net - Populasi Gajah Sumatera di Provinsi Bengkulu terus menurun. Diperkirakan kini hanya tersisa 70 hingga 150 ekor saja. Pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama menyelamatkannya agar tidak punah.
![]() |
| FOTO programs.wcs.org |
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah memastikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu bersama Forum Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Essensial (KEE), berada di garda terdepan dalam pelestarian habitat, sekaligus satwa Gajah Sumatera, yang berada di Kawasan Konservasi Bentang Seblat hingga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
"Kita akan mengundang beberapa pemangku kepentingan di kawasan itu, terkait kebutuhan dalam rangka memberikan habitat yang layak untuk konservasi Gajah Sumatera. Saya juga mendelegasikan dalam waktu dekat kepada Forum KEE bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu, untuk meminta kepada perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar wilayah, agar menyediakan koridor bagi Gajah Sumatera," tegasnya.
Berdasarkan data analisis konsorsium yang terdiri dari Genesis Bengkulu, Kanopi Hijau Indonesia, dan Lingkar Inisiatif menemukan hutan seluas 6.358,00 hektar tersebut saat ini telah berubah menjadi pertanian lahan kering campuran seluas 3.553 ha, lahan terbuka seluas 2.088 ha, semak belukar seluas 407,38 ha, dan perkebunan seluas 308,99 ha.
Sementara jumlah luasan ini diketahui, berdasarkan hasil analisis tutupan lahan yang dilakukan oleh Konsorsium Bentang Alam Seblat, melalui metodologi remote sansing memanfaatkan citra sentinel yang divalidasi menggunakan citra satelit google earth.
Gubernur Rohidin mengingatkan kepada masyarakat di sekitar kawasan untuk tidak melakukan perambahan atau pembalakan hutan, apapun dalilnya. Karena walaupun kawasan itu telah diusulkan dalam bentuk perubahan status kawasan, tentu harus menunggu keputusan dari KemenLHK serta titik koordinat dan kawasan yang diusulkan juga belum tuntas.
"Saya ingatkan kepada semua pihak untuk tidak melakukan perambahan hutan, karena kawasan itu sangat penting sekali dalam rangka kelestarian Gajah Sumatera," katanya sebagaimana dirilis Pemprov Bengkulu melalui laman Kominfonews Bengkulu, yang diakses dan dikutip pada Jumat (26/8) pagi.
BACA PULA :
Nagari-nagari Ramah Harimau di Pasaman, Agam dan Pasbar
Ketua Forum Kolaborasi Pengelolaan KEE Ali Akbar menjelaskan, Kawasan Bentang Alam Seblat-Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) menjadi kawasan ekologi penting bukan hanya bagi gajah sumatera tapi juga bagi satwa lainnya.
Ekologi ini, katanya, juga menjadi pendukung penyelamat warga atau wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko. "Jadi dua pendekatan penting inilah yang menjadi latar belakang kami dari Forum KEE ini untuk mencoba memastikan bentang alam Seblat itu selamat," ungkapnya.
Diketahui pada kawasan Bentang Alam Seblat terdapat tiga kantong habitat Gajah Sumatera yang terdiri dari HP Air Teramang seluas 4.818,00 hektar, HP Air Rami 14.010,00 hektar dan TWA Seblat 7.732,80 hektar.
Mengutip informasi dari laman wikipedia.org diperoleh penjelasan, Gajah Sumatra (Bahasa Latin: elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra. Gajah Sumatra berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india.
Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 sampai 2700 ekor Gajah Sumatra yang tersisa di alam liar berdasarkan survei pada tahun 2000. Sebanyak 65 persen populasi gajah sumatra lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30 persen kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia.
Sekitar 83 persen habitat Gajah Sumatra telah menjadi wilayah perkebunan, dan perambahan yang agresif. Gajah Sumatra merupakan mamalia terbesar di Indonesia, beratnya mencapai enam ton dan tumbuh setinggi 3,5 meter pada bahu. Periode kehamilan untuk bayi gajah sumatra adalah 22 bulan dengan umur rata-rata sampai 70 tahun.
Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lain. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas tubuh.
Belalainya digunakan untuk mendapatkan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari untuk meraup. Cara untuk melindungi gajah adalah merawatnya di kebun binatang dan taman konservasi oleh pemerintah.(MUSRIADI MUSANIF, disadur dan dikutip dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar