Kepribadian Pendidik - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

23 Agustus 2022

Kepribadian Pendidik

Oleh Dr. Suhardin, M. Pd.

(Dosen UIC Jakarta dan BPH STKIPM Bogor)



OPINI, POTRETKITA.net - Pendidik merupakan tenaga profesional, dipersiapkan secara keilmuan, dilatih secara metodik dan didaktik, dibina secara mentalitas, dan di tempat secara sosial.


Ia bekerja sebagai guru, berhubungan dengan anak-anak semenjak dari jenjang pendidikan dini sampai dengan pendidikan lanjutan atas. Ia sebagai dosen, berhubungan dengan mahasiswa, baik akademi, sekolah tinggi, dan fakultas maupun universitas.


Pendidik tentu banyak berhadapan dengan manusia yang beranekaragam karakter, maka satu diantara kompetensi yang sangat dibutuhkan pada diri pendidik adalah kompetensi kepribadian. 


Kepribadian terambil dari Bahasa Inggris personality, pola pikir, perasaan dan perilaku manusia yang unik, menjadi penanda diri seseorang dibandingkan dengan diri orang lain. Kepribadian menjadi tanda seseorang, ia representasi diri yang tampak ke luar, menjadi pembeda diri dengan diri orang lain.


Pakar psikologi organisasi Colquitt membagi personality dalam lima bagian; pertama, openness, orang yang imajinatif, kreatif dan artistik. Seseorang yang memiliki openness tinggi (high level openness) akan senantiasa bersikap maju dengan segala potensi imajinatif, kreatif dan artistik pada dirinya berkembang. Tetapi sebaliknya orang yang rendah kadar openness-nya akan terlihat konservatif, tidak suka perubahan, dan cendrung individualistik.


Kedua, conscientiousness, fokus pada tujuan, hati-hati, teratur, andalan, dan bertanggung jawab. Orang yang memimiliki  conscientiousness tinggi (high level concientiousness) senantiasa well organize, disiplin, tertib. Sebaliknya yang memiliki conscientiousness rendah (low level concientiousness) akan terlihat ceroboh, berantakan, tidak bisa diandalkan dan mudah berubah haluan.


Ketiga, extraversion, semangat, antusias, dan komunikatif. Positifnya orang yang berkinerja tinggi, terlihat kolaboratif. Negatifnya tentu motivasi rendah dan kinerja rendah, sukar bekerja sama, lelet dalam berbagai hal. 


Keempat, agreeableness, orang yang ramah dan adaptif. Positifnya senantiasa menghindari konflik, demi kemaslahatan beliau rela mengalah untuk kemaslahatan yang lebih luas. Negatifnya orang yang senantiasa tidak mau mengalah, angkuh dan sombong, kesalahan ditimpakan kepada orang lain, kebenaran dimonopoli.


Kelima, neuroticism, pengendalian emosi. Orang yang positif akan dapat mengendalikan dirinya dari kecemasan, ketersinggungan, dan bersabar. Orang yang memiliki neuroticism negatif akan terlihat sensitif, kebawa perasaan, dan pengecut. 


Keperibadian inilah yang harus dibina oleh pendidik semenjak awal. Kelulusan menjadi pendidik bukan ditentukan oleh kemampuan intelektual semata, dalam bentuk keilmuan yang kuat dan tangguh, tetapi adalah kesempurnaan kepribadian yang seperti dijelaskan oleh para pakar di atas, terutama dalam hal neuroticim, pendidik sangat diharapkan mempunyai sikap kesatria, mampu menahan diri, perasaan, emosi dalam berhadapat dengan peserta didik yang tengah berurusan. 


Peserta didik tentu memiliki banyak permasalahan, baik akademik, administrasi dan keuangan. Beliau dalam tekanan, bisa agak emosional, tetapi seorang pendidik tidak boleh terbawa emosional atas peserta didik yang tengah kita hadapi tersebut.


Emosional yang dihadapkan pada emosional akan menimbulkan ketegangan yang luar biasa. Muncullah diksi-diksi yang tak pantas dan tak elok di kemukakan, akibat diri dikuasai oleh emosi. Harga diri, wibawa keluarga dan gender menjadi hal menonjol dalam tataran emosional.


Apalagi permasalahan yang hanya untuk dua arah melebar kepada pihak lain, yang juga tersulut emosional. Tentu hal ini bentuk nyata dari kegagalan kepribadian pada seorang pendidik. 


KPAI mencatat di dalam tahun 2021 hampir terjadi 17 kasus kekerasan di dalam dunia pendidikan, hal ini disebabkan oleh banyaknya para pendidik yang memiliki kepribadian neuriticism rendah (low level neuroticm).


Mereka terbawa perasaan dalam menghadapi peserta didiknya. Mereka mudah tersinggung dengan ulah peserta didik. Akibatnya pendidik tega melakukan kekerasan pisik terhadap peserta didik. Adu mulut malah langsung memukul dengan tangan. Tentu hal ini tidaklah elok dilakukan dalam dunia pendidikan. 


Lebih fatal lagi, membawa kekuatan luar untuk masuk ke dalam kampus pendidikan, dengan alasan siri, harga diri seorang saudara perempuan yang di perlakukan tidak sopan oleh orang lain. Urusan sederhana yang melibatkan pihak lain, tentu berujung pada persoalan hukum.


Pengrusakan fasilitas umum, pengrusakan kendaraan, pembangunan opini yang tidak faktual, dan lebih dari itu mencoreng nama baik institusi. Luar biasa akibat dari kurangnya kepribadian seorang tenaga kependidikan. 


Dalam Islam, kepribadian juga sangat diutamakan, khatib setiap naik mimbar selalu menyampaikan bertaqwalah dengan sebanar-benar taqwa. Taqwa kepribadian utama bagi seorang muslim. Ketaqwaan secara terang benderang terlihat satu diantaranya adalah menjaga emosi, wal khazimi nal ghaiza wal afina aninnas, menjaga diri dari amarah dan memaafkan orang lain.


Burn menyebutnya dengan self defense mechanism, mekanisme pertahanan diri dari gejolak emosional. Self defense mechanism terwujud pada diri seseorang apabila ia memiliki konsepsi diri yang positif, menyeimbangkan antara harga diri (self esteem) dan penerimaan orang lain terhadap diri (self acceptence)


Di antara trik menjaga emosional, pertama, menjaga ketenangan bathin, sekalipun kerja keras, kerja di bawah tekanan, tetapi kalau kita tenang, insya Allah akan senantiasa mampu dilakukan secara perfectionism, bagus dan optimal. Kedua, berprasangka baik, dengan orang lain, bekerjalah dengan regulasi dan tata aturan yang jelas, jangan bekerja membuat aturan sendiri, mengambil kebijakan sendiri, suka obral janji, membuat orang menagih, sehingga suasana emosi jadi tegang.


Ketiga, segala sesuatu diselesaikan dengan tatanan organisasi intern, jangan mengadu dan menyampaikan permasalahan pekerjaan kepada pihak lain, yang bisa membuat interpretasi sepihak, sehingga mereka bertindak sesuai dengan interpretasi dia.


Keempat, jadilah seorang kesatria, mengakui kelemahan kita, bukanlah terhina orang yang mengakui kelemahannya, tetapi sangat nista, orang yang merasa benar, dan mengatakan orang lain salah semua. Kelima, dengarkanlah saran dan nasehat orang di luar diri kita, jangan memonopoli informasi dan membuat opini sendiri.


Kepribadian pada seorang pendidik adalah utama dan paling esensial, karena kepribadianlah membuat pendidikan berjalan baik dan menyenangkan serta membahagiakan.


Sebaliknya kepribadian rendah, negatif, merusak pondasi dan sendi-sendi lembaga pendidikan, menghancurkan kemajuan institusi pendidikan yang sudah dibangun oleh para orang tua dahulu. Marilah kita pendidik terus membina dan menguatkan kepribadian, sehingga dunia pendidikan terhindar dari kekerasan.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad