JAKARTA, POTRETKITA.net - Kewaspadaan dan kesiagaan semua elemen masyarakat di Sumatera Barat, nampaknya perlu terus ditingkatkan. Pemerintah daerah berkewajiban memberi arahan dan bimbingan. Rambu-rambu keselamatan juga perlu diperbanyak.
"Jika mencermati peristiwa gempa besar di Zona Megathrust Sumatra, tampak hanya Mentawai-Siberut saja yang belum rilis gempa besar: Enggano tahun 2000, Aceh (2004), Nias (2004), Bengkulu (2007), dan Pagai (2010). Dari data tersebut, hanya Siberut saja yang belum terjadi gempa besar sejak tahun 1700," tulis Plt. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Dr. Daryono pada akun twitter pribadinya.
Dua hari belakangan, serangkaian gempa bumi telah mengguncang Kepulauan Mentawai dengan magnitudo terbesar 6,2. Bahkan hingga Senin (12/9), gempa masih terjadi di kawasan tersebut.
BACA PULA
Gempa Darat Guncang Mentawai Hingga V MMI
Begini Situasi Terakhir Mentawai Setelah Diguncang Gempa
Dua pekan sebelum ini, persisnya pada Senin (29/8/2022), Mentawai juga sudah diguncang gempa Magnitudo 6,4 dan lebih dari 13 kali gempa susulan. Kawasan ini disebut masih menyimpan potensi gempa hingga Magnitudo 8,9 dapat dapat memicu tsunami.
Sehari setelah gempa M 6,4, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suhayanto, mengeluarkan imbauan kesiapsiagaan bagi pemangku kebijakan dan masyarakat di Provinsi Sumatera Barat, khususnya yang terdampak gempabumi dan yang berpotensi terpapar tsunami.
Suharyanto mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi gempabumi susulan. Peringatan dini gempabumi dapat diperoleh dengan memanfaatkan barang-barang yang mudah dijumpai di rumah seperti kaleng bekas.
"Pelihara terus kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa susulan. Masyarakat di dalam rumah bisa menyiapkan peringatan dini gempa sederhana dengan menyusun kaleng-kaleng bekas yang disusun bertingkat, sehingga jika terjadi gempa kaleng jatuh dan menimbulkan bunyi sebagai pertanda harus evakuasi keluar rumah," ujar Suharyanto.
"Pastikan tidak ada barang-barang besar seperti lemari, kulkas, meja dan lain-lain yang bisa menghalangi proses evakuasi keluar rumah saat terjadi gempa," imbuhnya, dikutip dari laman resmi bnpb.go.id.
Terakhir, khusus bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, Suharyanto berpesan agar bisa mengenali ciri gempa yang bisa memicu tsunami.
"Jika gempa berlangsung secara terus menerus selama lebih dari 30 detik baik itu dengan guncangan keras maupun mengayun, masyarakat yang berada di daerah pantai agar segera lari ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terjadi tsunami," terangnya.(mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar