CIANJUR, potretkita.net - Presiden memastikan, mobilisasi alat berat harus tuntas segera karena diperlukan untuk mengevakuasi korban gempa bumi Magnitudo 5,6 di Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Korban gempa yang masih tertimbun harus segera dievakuasi.
BACA JUGA
Bencana Lanjutan Gempa Cianjur Perlu Diwaspadai
Sebanyak 271 Jenazah Telah Teridentifikasi
Presiden ke Cianjur Lewat Jalan Darat
Demikian dikatakan Presiden Joko Widodo, Kamis (24/11) sekira pukul 13.15 WIB, dalam perjalanan kembali ke Istana Bogor, setelah mengunjungi para korban.
Dalam perjalanan itu, iring-iringan kendaraaan yang membawa rombongan presiden, tiba-tiba berhent di SDN Cugenang. Kawasan itu merupakan lokasi terparah dampak gempa. Presiden ingin memastikan, mobilisasi alat berat berjalan dengan lancar.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono yang berada satu mobil dengan Presiden menyampaikan, semula dirinya hanya melaporkan bahwa alat berat telah siap dimobilisasi. “Tapi Bapak Presiden minta kita berhenti di lokasi karena beliau ingin melihat langsung dan memastikan bahwa alat gerak mulai dimobilisasi,” kata Basuki.
Basuki menyebut, korban yang diperkirakan tertimbun menjadi perhatian Presiden. Sejak diinformasikan ada korban yang tertimbun longsor, katanya, Bapak Presiden memerintahkan pihaknya agar evakuasi korban di Cugenang ini menjadi prioritas utama.
Pergerakan alat berat tersebut, ucap Basuki, tidak dapat bergerak lurus menuju lokasi longsoran sehingga harus berputar untuk menghidari kondisi tanah yang tidak stabil. “Sore hari nanti, alat berat sudah dapat mencapai lokasi longsoran,” kata Basuki, sebagaimana dirilis BPMI Setpres, yang diakses dan dikutip pada Kamis (24/11) sore.
Selama melakukan kunjungan ke Cianjur, presiden juga mengunjungi titik pusat gempa yang terjadi pada Senin (21/11) itu, tepatnya di Kampung Munjul Desa Gasol, Kecamafan Sugenang. “Ini adalah episentrumnya dan yang paling parah, terutama untuk rumah-rumah yang roboh yang paling banyak adalah di sini. Yang meninggal pun, yang banyak juga di sini,” ujarnya.
MELANDAI
Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis, intensitas gempa susulan mulai melandai.
"Gempa-gempa susulan itu sebagian besar tidak dirasakan, dan yang bisa mencatat adalah alat, dan ada beberapa yang dapat dirasakan. InsyaAllah, dalam kurun waku empat hari kedepan, gempa-gempa susulan tersebut sudah reda dan stabil," ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Menurutnya, memasuki puncak musim penghujan, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam ikutan, seperti longsor dan banjir bandang yang membawa material-material reruntuhan lereng akibat gempa M5.6.
"Curah hujan sedang meningkat menuju puncaknya di bulan Desember hingga Januari nanti, jadi harus diwaspadai kemungkinan terjadinya bencana ikutan usai gempa kemarin. Material lereng yang runtuh seperti tanah, batu, pohon, kerikil, dan lainnya harus dibersihkan agar tidak terbawa air dan menjadi banjir bandang. Hal ini pernah terjadi saat gempa Palu dan Pasaman Barat," ujarnya.
Dwikorita mengimbau, saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan, semestinya menggunakan struktur bangunan tahan gempa. Menurutnya, banyaknya korban meninggal dan signifikannya kerusakan yang terjadi pada saat gempa tektonik bermagnitudo 5,6 selain akibat gempa dangkal, juga akibat struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa.
"Mayoritas bangunan yang terdampak karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa," paparnya.
Perlu dipahami, ujar Dwikorita, banyaknya korban jiwa dan luka-luka dalam gempabumi Cianjur bukan diakibatkan guncangan gempabumi, melainkan karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempabumi.
Khusus untuk pemukiman warga di daerah lereng-lereng dan perbukitan, kata Dwiokorita, maka opsi relokasi harus dipertimbangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Mengingat berdasarkan analisa yang dilakukan BMKG, gempa di Cianjur merupakan gempa yang berulang setiap 20 tahunan dan kemungkinan dapat terjadi kembali.
Sementara, topografi di wilayah lereng dan perbukitan tersebut tidak stabil dengan kondisintanah yg rapuh atau lunak dan sering jenuh air, akibat curah hujan yang cukup tinggi.
Saat ini, menurut Dwikorita, BMKG tengah melakukan survei untuk mengidentifikasi wilayah mana saja yang aman terhadap guncangan gempa. BMKG juga akan memadukan data yang dimiliki dengan PVMBG terkait wilayah rawan gempa dan rawan longsor guna mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi usai gempabumi.
"Kepada masyarakat yang ada di pengungsian maupun di rumah, kami mengimbau untuk tetap tenang. Jangan percaya dengan kabar, berita, maupun informasi yang tidak jelas asal muasalnya yang justru menambah kecemasan. Pastikan informasi resmi hanya dari BMKG melalui kanal-kanal komunikasi resmi. InsyaAllah, kondisi di Cianjur saat ini semakin stabil," pungkasnya.(mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar