PADANG PANJANG, potretkita.net - Perjuangan hidup dan mencari nafkah bagi keluarga, terkadang bagi sebagian orang sangat mudah. Uang yang mengejar. Tapi bagian sebagian lainnya, sangat sulit.
Keadaan lingkungan dan kondisi fisik juga menjadi faktor penentu, dalam berpacu meraih rezeki. Tapi ada sisi-sisi humanisme yang layak diketahui, di antaranya dapat kita petik dari kehidupan Edison (55), warga Bancahlaweh, Kelurahan Koto Panjang.
Dengan keterbatasan fisik, tidak menyurutkan niatnya untuk membuka usaha pijat, yang diberi nama Pijat Tunanetra Edi. Layanan ini berlokasi di Bancalaweh, depan Masjid Ilham.
Sebelum bermasalah dengan matanya, Edison adalah seorang sopir angkot. Namun akibat katarak yang dideritanya, membuat penglihatannya hilang dan tak bisa melanjutkan pekerjaan lamanya itu. Namun itu tidak menyurutkan semangat Edison untuk melanjutkan kehidupannya. Mulai 2014, ia belajar memijat dari kakaknya di Kota Payakumbuh.
Begitu ia bisa memijat, pada 2015 ia merantau ke Padang Panjang bersama istri dan anak-anaknya. "Awal-awalnya memang belum ada pelanggan yang tahu. Namun berkat penyampaian dari mulut ke mulut, akhirnya ada beberapa pelanggan. Kebanyakan mereka sudah menjadi pelanggan tetap sampai saat ini," ceritanya, suatu ketika.
Edison dikarunia tiga orang anak. Dua anaknya sudah tidak sekolah lagi. Yang pertama sudah tamat dan yang kedua tidak melanjutkan sekolahnya. Anak yang kecil saat ini belajara di Taman Kanak-Kanak.
Kadang istrinya berjualan lontong, namun kurang laris. Praktis hanya dirinya sendiri yang jadi tulang punggung keluarga. Namun dari praktik pijatnya, ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dari pelanggannya, paling besar ia menerima Rp50 ribu, paling sedikit Rp30 ribu untuk upah pijatan. Kadang-kadang ada juga yang hanya mengucapkan terima kasih karena pelanggannya tidak punya uang. Ia tetap menerima berapapun diberikan pelanggannya.
Sebelum Covid-19 melanda, Edison bisa memijat pelanggan dalam sehari 10 orang. Namun semenjak pagebluk melanda, ia hanya kedatangan pelanggan paling banyak tiga orang sehari, kadang dua orang. Tapi itu tidak menyurutkan tekadnya untuk tetap bertahan hingga saat ini. "Alhamduliah melalui upah yang saya dapatkan ini saya bisa menghidupi keluarga," katanya.
Jika ada yang ingin dipijat, kata Edi, bisa menghubungi nomor 085363357534. Ia juga bisa dijemput apabila ada yang ingin dipijat di rumah.(YULI GUSLINDA, diskominfo pp)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar