SUDAH sepekan lebih Balai Latihan Kerja (BLK) Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar, Sumatera Barat, dimulai. Kini mereka yang belajar sudah bisa membuat baju gamis.
"Alhamdulillah BLK sudah bisa produksi. Adik-adik yang belajar sudah pandai. Kini tinggal menunggu orderan saja lagi," kata Syahyuti Abbas, pengurus Ponpes Darul Ulum Padang Magek, Jumat (13/8), melalui pesan elektroniknya.BLK Ponpes Darul Ulum ini melatih 16 orang kaum wanita yang merupakan warga Nagari Padang Magek, belajar menjahit. Tujuannya setelah pandai menjahit, nantinya bisa mereka jadikan sebagai profesi.
BLK ini bantuan Kementerian Tenaga Kerja RI melalui Anggta DPR RI Fraksi Gerindra, Daerah Pemilihan Sumbar 1; dr. H. Suir Syam, M.Kes., MMR.
‘’Alhamdulillah. Pesantren kita mendapat bantuan dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI membangun Gedung Workshop atau Balai Latihan Kerja Komunitas. Kini sudah bisa dimanfaatkan. Ini tak terlepas pula dari rekomendasi Bapak H. Suir Syam dalam kapasitasnya selaku anggota DPR,’’ sebut Pengurus Yayasan Pesantren Darul Ulum H. Ampera Salim, kemarin, di Padang Magek.Dikatakan, kecakapan pertama yang akan diberikan kepada siswa setelah bangunan itu selesai adalah menjahit, termasuk dalam desain mode dan pertekstilan. Persiapan itu, ujarnya, sudah rampung seiring dengan selesainya pembangunan gedung belajar, dan telah tersedianya sejumlah mesin jahit beserta kelengkapan lainnya.
Total bantuan itu Rp850 juta, terdiri dari biaya membangun gedung Rp500 juta dan peralatan Rp350 juta. ''Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Suir Syam yang telah menjembatani. Beliau dua periode jadi anggota DPR, yakni periode 2014-2019 dan periode 2019-2024. Suir adalah juga walikota Padang Panjang periode 2003-2008 dan 2008-2013,’’ ujar Ampera.Menurutnya, dengan diberi bekal kecakapan hidup berupa keterampilan menjahit itu, tamatan Pesantren Darul Ulum Padang Magek diharapkan, selain memiliki ilmu agama yang dalam, juga mempunyai keterampilan yang diperlukan. Hal itu, tegasnya, menjadi harapan Suir Syam, pengurus pesantren, dan masyarakat.
Sejak berdiri pada 1942, pesantren ini memang berhadapan dengan berbagai kendala. Kendati begitu, kini keberadaannya semakin diperhitungkan dan diminati ratusan generasi muda. Banyak hal yang menarik dari pesantren itu.Kini, dengan hadirnya gedung workshop dan sarana kecakapan hidup, tentu kapasitas tamatan pesantren ini akan meningkat, karena juga sudah ahli menjahit sebagai salah satu sarana untuk menjalani hidup dan kehidupan di dunia.(MUS)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar