KPAI Temukan Ada Insan Berhati Malaikat - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

14 Agustus 2021

KPAI Temukan Ada Insan Berhati Malaikat

JAKARTA, POTRETKITA.net - Dalam melakukan pengawasan anak-anak yang dititipkan karena orang tuanya meninggal, KPAI menemukan insan berhati malaikat. Spontan apresiasi pun diberikan. Rasa bangga menyelusup ke lorong hati paling dalam.

Komisioner KPAI Dr. Jasra Putra saat berbincang dengan istri Sertu Edu pada Rakornas KPAI yang digelar secara virtual.

Dia adalah seorang anggota TNI, bernama Sertu Edu Marung. Sehari-harinya bertugas di Batalyon Bekang V Perkebud. Edu mengasuh tiga anak yang orangtuanya meninggal dunia saat terkonfirmasi positif Covid-19 sejak sebulan lalu. Anak-anak itu adalah C (4 tahun), J (11 tahun) dan F (13 tahun).


Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Jasra Putra, M.Pd., Sabtu (14/8) mengatakan, ketiga anak yang ditinggal kedua orangnya itu berasal dari Flores dan telah sebulan tinggal di kontrakan Rawa Lumbu Bekasi, ditemukan Edu tanpa orangtua. Edu pun merasa terpanggil untuk merawat mereka.


‘’Kami di perantauan saling terkonek di dalam grup perkumpulan masyarakat Flores. Sejak perkumpulan memberi tahu ada orangtua terkena Covid-19, kami saling bantu, termasuk keluarga ini. Waktu itu, kami mengantarkan langsung makanan, meski hanya menaruh di depan pintu,’’ kata Edu, sebagaimana ditirukan Jasra.


Selang sebulan, ayah dari ketiga anak itu juga meninggal. Perkumpulan mendorong Edu untuk memberanikan diri mengasuh mereka. Ia bilang kepada istrinya. Kita memang akan lapar, sebut Edu, tapi tidak akan kelaparan, tegasnya menguatkan diri ketika mengambil anak-anak ini.


‘’Kondisi tinggal di kontrakan memang tidak bernasib sama dengan masyarakat yang telah lama dikenal, apalagi hidup anak-anak ini telah berpindah-pindah empat kali dalam mengadu nasib di Jakarta,’’ kata Edu yang pernah dimintai tolong keluarga.


Kisah ketiga anak menjadi yatim piatu, bermula dari ibunya meninggal di tempat saat pihak keluarega mencari ambulan dan tidak mendapatkannya, dilanjutkan berselang seminggu ayahnya, juga ikut meninggal di rumah sakit.


Grup perkumpulan masyarakat Flores tidak meninggalkan Edu sendirian. Mereka mencari akses, agar apa yang diperbuat Edu dan didukung istrinya mendapatkan perhatian. Akhirnya, perkumpulan bisa mendatangkan utusan dari Kementerian Sosial, dan berkomunikasi via telepon dengan KPAI dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).

Sertu Edu bersama istri, ketika dikunjungi Relawan Perlindungan Anak kediamannya.

Dalam komunikasi tersebut Edu meminta tolong agar anak-anaknya di perhatikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Kesehatan. ‘’Kalau untuk makan, sebutnya, kami bisa, tapi untuk jaminan masa depan pendidikan dan kesehatan kami mohon bantuan,’’ katanya.


Setelah sebulan mengasuh anak-anak ini, Edu menyatakan sangat bersyukur, karena datangnya bantuan beras 15 liter, minyak goreng, sarden, beberapa baju buat ketiga anak, sepatu buat anak yang besar, buku, peralatan sekolah dan peralatan mandi dari Kementerian Sosial.


Bersama istrinya Maria Cahaya yang sudah memiliki anak satu, Edu mengasuh ketiga anak tersebut. Bila sang anak melamun dan ingat orang tuanya, sebut Edu, saya selalu bilang jangan melamun.


Edu bercerita, ada suatu peristiwa lucu terjadi selama dalam pengasuhannya, karena anak kedua ini sangat kritis, sehingga almarhum ayahnya pernah mendoakan kepada Tuhan agar otaknya dicairkan, dan kami tertawa semua.


‘’Hampir di masa-masa awal kehilangan orang tua, mereka selalu kami ajak mengingat kisah-kisah perjuangan dan kisah bahagia bersama orang tua mereka. Kondisi di awal yang berat, selalu kami alihkan dengan berdoa dan yakin orang tua mereka sudah bahagia di surga. Anak-anak jadi kuat dan yakin ini adalah kehendak Tuhan,’’ ujarnya.


BACA JUGA  Waspada Luar Jawa-Bali, Jangan Telat Tangani Yatim Piatu70 Persen Virus Corona Varian Baru Ancaman Bagi Anak


Saat ini, sebut Jasra, KPAI sedang meningkatkan kegiatan menyerap informasi untuk menjangkau dan berkomunikasi dengan para orang tua yang mau mengasuh anak.


‘’Kami mendukung dan mendorong lebih banyak lagi orang tua yang mau mengasuh anak-anak, karena dari sekitar 100 ribu kematian akibat Covid-19, tentu akan banyak anak-anak yang kehilangan figur atau aktor pengasuh utamanya, tidak hanya orang tua yang meninggal, bisa juga yang mengasuh single parent, paman atau bibi, kakek atau nenek, atau keluarga tidak sedarah, bisa juga kakak dan adik, atau sesama keluarga perantauan seperti ketiga anak ini,’’ katanya.


Negara kita, imbuh Jasra yang merupakan kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi KPAI, memanggil keluarga yang mau jadi relawan pengasuhan, karena negara ini belum memiliki daftar calon orang tua asuh, sebagaimana yang diwajibkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2017.


‘’Kita mulai saja mendata orang -rang yang mau menjadi relawan pengasuhan untuk anak-anak yatim ini. Sebaran datanya sangat besar. Kenapa, karena pandemi belum berakhir, situasi anak-anak terlantar akan bertambah terus, dengan menurunnya ekonomi, PHK, kekerasan, perceraian, masalah mental, kehilangan tempat tinggal, hingga meninggal. Kita perlu bergandengan tangan secara cepat menyelamatkan anak-anak ini,’’ sebut aktvis muda asal Pasaman Barat itu.


Jasra menyebut, pihaknya mengundang istri Sertu Edu dalam Rakornas KPAI Pemenuhan dan Perlindungan Anak Korban Kehilangan Orang Tua Pada Pandemi Covid-19. KPAI berharap, tururnya, setelah mendengar situasi pengasuhan, rapat yang diselenggarakan bersama kementerian dan lembaga, organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan, MUI dan para pemuka agama, dapat memotret langsung kondisi anak-anak yang terlepas dari pengasuhan.


Memang dengan potensi data yang besar ini, jelasnya, semua harus bergandeng tangan, tidak mungkin meninggalkan pemerintah sendirian. Karena seiring sedang mendata, juga tidak mungkin membiarkan nasib anak-anak yang terlepas dari keluarga tersebut terlalu lama.


Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kedua orang tua dari ketiga kakak beradik yang kini duasuh Edu meninggal karena Covid-19. Ibunya alm Siti Fatima lebih awal meninggalkan mereka, yakni pada 29 Juni 2021  di kontrakan kemudian ayahnya alm Vinsensius yang meninggal 4 Juli 2021 di Rumah Sakit Tebet.


Anak-anak sempat khawatir, ketika ayahnya akan dimakamkan di Rorotan, kata mereka, inginnya ayah ibu di makamkan bersama di Pedurenan. Karena masih ingin dekat dengan ayah dan ibunya, jangan dipisah makamnya.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad