Mudik dalam Perspektif Sosiologis, Antropologis, dan Teologis (2) - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

27 April 2022

Mudik dalam Perspektif Sosiologis, Antropologis, dan Teologis (2)

BAGIAN KEDUA DARI DUA TULISAN

Oleh Dr. Suhardin, M.Pd

(Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)

DALAM catatan demografi dunia, belum ada ditemukan manusia yang hidup sepanjang masa, baru-baru ini manusia yang terlama hidup adalah Kane Tanaka berusia 118 (seratus delapan belas tahun) berada di Fukuoka Jepang. Angka harapan hidup Indonesia rata-rata adalah 69 tahun (71 tahun untuk wanita dan 67 tahun untuk pria). 


Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, angka harapan hidup Indonesia pada 2018 lalu meningkat menjadi 71,2 tahun, dengan 69,3 tahun untuk pria dan 73,19 tahun untuk wanita. Belum ada satupun manusia yang bertahan hidup sampai menembus angka 150 tahun. Semua yang ada di dunia ini relatif dan sementara. Organ tubuh yang dimiliki manusia terbatas, dan sementara, semuanya mengalami proses penuaan. Semakin lama di pergunakan semakin lemah dan mengalami penurunan baik kualitas maupun fungsionalitas. 


BACA JUGAMudik dalam Perspektif Sosiologis, Antropologis, dan Teologis


Pesan Allah SWT dalam surat al-Ankabut ayat 56-59: “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sungguh bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman mengerjakan kebaikan, sungguh mereka akan kami tempatkan  pada tempat-tempat yang tinggi (didalam sorga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebaikan. Orang-orang yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.”


Mudik substansial secara teologis adalah kembali kepada asal muasal manusia dengan membawa perbekalan yang cukup. Bekal yang akan dibawa kepada Tuhan yang telah menciptakan dan menugaskan di dunia ini adalah kebajikan. Kebajikan tersebut akan dapat diakumulasi dengan baik dalam bentuk amal shaleh dalam wujud kesalehan sosial. Kebermanfaatan personal (diri) di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan, bukan kemudharatan diri (personal) di tengah lingkungan.


Kebaikan seluruh personal manusia terhimpun dalam kebajikan kolektif menjadi sebuah peradaban (civilization), membentuk keanggunan, keberkahan, kenyamanan, keamanan, kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan kehidupan di dunia ini. Peran-peran kebaikan dilakukan dengan penuh konsistensi, berkesinambungan, keberlangsungan, dengan mengkaitkan pada kebaikan yang lain secara seksama dan sempurna, inilah wujud dari kesabaran.


Dalam melaksanakan kebaikan untuk merias dan merawat segala ornamen yang ada dalam kehidupan dunia hanya bersandar pada satu kekuatan utama, yaitu kekuatan Allah. Semua prestasi dan kemajuan yang diperoleh adalah hasil dari kuasa dan kehendak Allah, bukan kehebatan, keunggulan diri, dan bukan pula kejumawaan sang penguasan dan pemimpin. Inilah substansi tawakkal kepada Allah. 


Kebaikan personal dan kebaikan komunal yang telah dideposite (dikumpulkan) selama kehidupan dunia akan dibawa menuju kampung yang abadi YaumudDin, Yaumul Akhir, dan Yaumul Hisab. Para perantau yang tengah hidup di kampung sementara dunia yang fana ini, bersiaplah mudik ke kampung abadi tersebut.


Dimana setelah dilakukan cek point dan verifikasi kebaikan, Amal Shaleh, jika keshalehan melebihi kekhilafan dan kesalahan niscaya di tempatkan pada tempat yang tinggi dan mulia yakni sorga JannaTun Naim, yang dihiasi dengan taman yang indah dan dialiri oleh sungai serta dilayani oleh para bidadari.


Di bulan Ramadhan ini moment strategis untuk mengumpulkan kebaikan yang sangat banyak sehingga kita dapat menggapai derajat taqwa dan bersama-sama bertemu Allah SWT semoga di tempatkan pada tempat yang agung dan mulia tersebut. Amien yarabbal alamien.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad