Masjid Wujudkan Kehidupan Berkelanjutan - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

14 September 2022

Masjid Wujudkan Kehidupan Berkelanjutan

Oleh Dr. Suhardin, S Ag., M Pd.

(Dosen UIC Jakarta & BPH STKIPM Bogor) 



OPINI, POTRETKITA.net - Manusia mandataris Allah SWT untuk mengelola, mengurus, dan menata bumi dan alam semesta dan segenap isinya untuk kemuliaan makhluk ciptaan-Nya dan kesejahtereaan segenap manusia, tanpa diskriminasi.


Manusia dituntut untuk memastikan terciptanya keseimbangan alam ciptaan Allah SWT (natural equalibrium system) dan memastikan bahwa kehidupan makhluk ciptaan Allah berlangsung secara berkelanjutan (natural sustuinable system). 


Ibadah dan tempat ibadah yang dijadikan manusia untuk memuja dan memuliakan Tuhan, didesain dan dikreasi sebagai tempat yang mewujudkan terciptanya dua konsep yang dikemukakan di atas. 


Ummat Islam yang mayoritas di Indonesia, beribadah di masjid, mushalla, surau, dan langgar, dapat dipastikan senantiasa mewujudkan kehidupan berkelanjutan segenap makhluk ciptaan Tuhan. 


Kehidupan Berkelanjutan (Sustainable Life)

Emil Salim menggagas pembangunan berkelanjutan dengan tiga parameter utama; pertama, tidak ada pemborosan dalam penggunaan sumber daya alam, depletion of natural resources.


Kedua, tidak ada dampak pembangunan terhadap polusi udara, polusi air, polusi tanah dan berbagai hal yang merusak lingkungan, zero environmental damage. Ketiga, kegiatan pembangunan meningkatkan daya guna sumber daya alam, useable resources dan replaceable resources. 


Esensi konsep pembangunan berkelanjutan tentu memastikan kehidupan makhluk ciptaan Tuhan berkelanjutan. Masing-masing spesies yang diciptakan Tuhan dapat dipastikan tidak punah, karena hancurnya habitat, ekosistem akibat kerakusan manusia dalam mengekploitasi sumber daya alam (natural resources).


Sumber daya alam yang telah diciptakan Allah SWT sangat kaya dan memiliki keanekaragaman (biodiversity) yang sangat padat, tetapi amat sedikit bagi kaum yang rakus dan tamak. Segelintir penduduk satu negara menguasai hampir 90 persen kekayaan alam negara tersebut. Ini bentuk nyata dari kerakusan anak bangsa, yang tidak prihatin dan perhatian terhadap saudara lain yang masih tidak memiliki apa-apa. 


Pembangunan yang berkelanjutan (sustuinable development) akan memastikan terwujudnya kehidupan yang berkelanjutan (sustuinable life). Dalam bentuk; pertama, hilangnya kemiskinan di dalam satu daerah, propinsi dan negara, sehingga antar anak bangsa memiliki gini ratio yang rasional, tidak jomplang, dan diskriminative.


Kedua, terpeliharanya sumber daya alam, keanekeraragaman hayati (biodiversity) terpelihara dengan baik, tidak ada jenis, spesies, yang hilang akibat kedigdayaan manusia dalam melakukan eksploitasi. Ketiga, bersama dan bergotong royong dalam menciptakan kelestarian alam, berusaha memuliakan alam ciptaan Tuhan dengan tidak merusak dan memastikan diri untuk melakukan rehabilitasi dan reboisasi terhadap berbagai kerusakan lingkungan hidup yang dilakukan oleh sebagian dari manusia yang kurang bertanggungjawab. 


Keempat, membangun kesadaran yang tinggi terhadap perilaku yang bertanggungjawab terhadap lingkungan (Responsibility Environmental Behaviour), sikap dan perilaku ini dipastikan tetap tinggi pada segenap personal yang sudah nyata mengaku beriman dan beramal shaleh.


Kelima, wujud nyata dari responsibility environmental behaviour (perilaku lingkungan yang bertanggungjawab) dapat dikreasi dengan ritual nyata dalam bentuk gerakan sedekah sampah (GRADASI), untuk memastikan bahwa sampah yang dihasilkan oleh manusia dapat diolah, didayagunakan dan dikontribusikan untuk kemajuan masjid, sekolah, madrasah dan pesantren. 


Re-orientasi Peran dan Fungsi Masjid

Masjid secara umum adalah pusat peribadatan ummat Islam. Masjid dijadikan pusat spiritualisasi ummat Islam. Di masjidlah ummat Islam mendapatkan ketenangan jiwa bertaqarrub kepada Allah dengan lantunan zikir dan shalat. Masjid menghilangkan kepenatan muslim terhadap hiruk pikuk kehidupan dunia yang serba menuntut, menghadang, menantang dan terkadang menggilas. 


Masjid memiliki peran nyata terhadap kesalehan individual dan kesalehan sosial orang-orang yang menganut agama Islam. Maka peran strategis ini perlu dikembangkan ke arah peran ekologis. Masjid bukan hanya spirtualisasi tetapi masjid juga memberikan kesadaran yang tinggi terhadap ummat Islam tentang pentingnya mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan dengan melaksanakan eco masjid. 


Eco masjid diarahkan, pertama, masjid yang terbangun dalam konteks ramah lingkungan, semenjak rancang bangun, arsitektur, sampai dengan pilihan bahan bangunan. Masjid berusaha menghindari bahan bangunan yang berdampak terhadap pemanasan global, dimana bahan bangunan yang berkontribusi tinggi terhadap emisi karbon yang dapat memberikan polutan terhadap atmosfier bumi.


Kedua, pemanfaatan energi penerangan dan energi lain dari panel surya, sehingga masjid hemat listrik. Dimana listrik menjadi kebutuhan utama manusia, jika masjid melakukan penghematan akan berkontribusi terhadap kebutuhan manusia yang kurang mampu. 


Ketiga, masjid lebih berorientasi memberikan kenyamanan natural kepada jamaahnya, sumber udara dari alam, dengan arsitektur yang berbasis naturalistik, sumber pencahayaan dari matahari, arsitektur terbuka. Hindari penggunaan mesin pendingin ruangan, air condition (AC) yang terbuat dari freon, jelas-jelas berkontribusi nyata terhadap pemanasan global.


Keempat, menata masjid untuk menghormati dan menghargai kaum disabilitas dan anak-anak serta kehormatan kaum perempuan. Kelima, masjid lebih menekankan pengembangan dengan ruangan terbuka hijau, melakukan daur ulang air, daur ulang sampah. Keenam, mengembangkan gerakan sedekah sampah (GRADASI) sebanagai betuk ritual nyata dalam mensukseskan kehidupan yang berkelanjutan (sustuinable life). 


Penaataan yang demikian membuat masjid berkontribusi nyata terhadap kehidupan yang berkelanjutan, dimana adab dan keadaban lebih di kedepankan dari pada ego spiritualisasi dan persaingan penampilan masjid dengan arsitektur yang modern dan mutakhir.


Masjid banyak berlomba dengan saldo yang banyak, tertulis dan dibanggakan setiap jumatan. Padahal itu adalah uang titipan jamaah yang perlu dibelanjakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan jamaah, agar kemanfaatannya dirasakan dan mengalir pahalanya kepada jamaah yang berinfak dan bersedekah.


Keadaban inilah yang menjamin terciptanya kelangsungan kehidupan secara permanent, berkelanjutan untuk terciptanya kehidupan yang lebih baik dan sempurna menuju sang maha sempurna, Allah SWT. Wallahu alam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad