Ikan Bilih Kembali Jadi Pembicaraan - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

24 November 2022

Ikan Bilih Kembali Jadi Pembicaraan

PADANG, potretkita.net - Ikan bilih yang menjadi endemik Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, kembali jadi pembicaraan di tataran pejabat.


BACA JUGA


Nampaknya, kekhawatiran akan punahnya ikan bercita rasa gurih itu terus tumbuh. Untuk itu, beragai upaya untuk melestarikannya terus dilakukan, khususnya oleh jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.


Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Desniarti mengungkapkan, keberadaan bagan atau jaring angkat menggunakan jala rapat, merupakan faktor pemicu menurunnya populasi ikan bilih di Danau Singkarak. 


"Data pemilik bagan dan jumlah bagan yang berada di Kabupaten Solok dan Tanah Datar berdasarkan hasil identifikasi dari walinagari per tanggal 17 November 2022, berjumlah 206 orang, sedangkan jumlah bagan sebanyak 317 unit," ujar Desniarti, pada rapat koordinasi yang dilaksanakan Selasa (22/11) lalu. 


Rapat Penyelamatan Ikan Endemik Danau Singkarak bersama Gubernur Sumatera Barat Buya Mahyeldi itu, diikuti Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Desniarti, Kepala Kesbangpol, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Balitbang, serta beberapa jajaran Forkopimda terkait di Ruang Rapat Istana Gubernuran.


Menurutnya, pemilik bagan pada umumnya merupakan masyarakat setempat salingka Danau Singkarak dan bukan investor dari luar Kabupaten/kota.  "Bagan dioperasikan pada malam hari dengan 4 kali panen dalam semalam  dengan hasil panen ikan Bilih 50-80 Kilogram per unit bagan. Jika Bagan beroperasi sebanyak 317 unit maka hasil panennya 15.850 – 25.360 kilogram per hari," ungkapnya, sebagaimana dirilis Dinas Kominfotik pada laman sumbarprov.go.id, yang diakses dan dikutip pada Kamis (24/11) malam.


Desniarti juga mengungkapkan, jenis jaring angkat yang mengancam kelestarian Ikan Bilih tersebut menggunakan mata jaring yang sangat rapat sebesar 2-4 mm, hal tersebut mengakibatkan overfishing yang dapat mengancam populasi ikan endemik di danau singkarak tersebut.


Gubernur Buya H. Mahyeldi Ansharullah, mendukung upaya penertiban bagan tersebut namun ia juga mengatakan harus ada upaya dari Pemerintah Provinsi untuk memikirkan mata pencaharian lain dari 206 orang nelayan (pemilik bagan), sehingga pendapatan para nelayan tersebut tidak terganggu. 


"Pada waktu itu saya bertemu dengan Wali Nagari di sana untuk membahas pelebaran jalan di Danau Singkarak maka akan banyak event yang bisa digelar untuk menggerakkan ekonomi dan membangkitkan potensi yang ada," ujar gubernur. 


Gubernur mengataka,n jika jalan sudah lebar, akses bagus dan lancar, maka banyak event yang bisa diselenggarakan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat salingka Danau Singkarak.


Kemudian terkait penertiban bagan terdapat beberapa upaya-upaya yang dilakukan Pemprov Sumbar untuk menjaga keselamatan ikan bilih antara lain dengan Membuat kawasan suaka (reservat) didanau Singkarak sehingga masyarakat tidak dibolehkan melakukan aktifitas penangkapan dikawasan tersebut. Ikan bilih dapat tumbuh dan berkembang secara alami di kawasan reservat.


Di dalam rapat tersebut gubernur juga membahas untuk  memperluas kawasan reservat yang ada, untuk menambah jumlah jenis ikan yang bisa dilindungi dari aktivitas ilegal fishing.(diskominfotiksb; ed mus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad