SULUH PERADABAN - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

21 November 2022

SULUH PERADABAN

Oleh Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd.

(Dosen, Aktivis Muhammadiyah, dan Pengurus Lingkungan Hidup MUI)

 

OPINI,potretkita.net - RASULULLAH Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk membaca dengan menyebut nama Allah yang maha pencipta, Allah yang maha pencipta tersebut menciptakan manusia dari segumpal darah.


Teruslah membaca, bahwasanya Allah adalah Tuhan Yang Maha Mulia, yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Intensitas kalam yang dipergunakan manusia akan melahirkan tatanan kehidupan yang lebih baik, harmonis, bahagia, makmur dan sejahtera.


Kekuatan kalam melahirkan kehalusan dan kelembutan budaya, melahirkan ketinggian peradaban sebagai perwujudan peran kekhalifahan yang diemban oleh manusia. 


Perjalanan kehidupan manusia di muka bumi yang hidup dalam pemenuhan kepentingan diri, kelompok dan negara, tentu melahirkan berbagai problema hubungan manusia dengan alam; eksploitatif, destruktuktif dan disharmonisasi.


Kekuatan potensi diri manusia dalam kehidupan di tengah alam, membuat manusia semakin leluasa untuk menaklukkan alam, sehingga merasa bahwa alam bebas dari kekuasaan Tuhan, manusia semata yang berkuasa terhadap alam, sehingga manusia menjadikan dirinya penguasa terhadap alam, muncullah kesombongan dan kepongahan manusia sebagai penakluk alam, alam berkembang dan berjalan secara alamiaha karena terjadi interaksi dan relasi, proses yang ada adalah kausalitas, sebab dan akibat. 


Dengan kasih sayang, rahman dan rahim,  Allah SWT mengutus utusan-Nya Rasululullah untuk memberikan pencerahan kepada manusia tentang eksistensi Tuhan, Allah SWT yang maha kuasa, maha pencipta, menciptakan manusia dari segumpal darah, manusia dapat menemukan Allah SWT dengan pemanfaatan kalam.


Sumber daya alam ummat dieskploitasi oleh kekuatan asing, budaya ummat dipenetrasi oleh budaya asing, ummat nyaris tidak berdaya dalam berhadapan dengan kekuatan peradaban lain. 


Kemuliaan, ketinggian martabat kemanusiaan seorang manusia, tergantung dari kemampuannya menggunakan kalam dalam kehidupan nyata untuk kemaslahatan kehidupan manusia dan keberlangsungan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan di alam raya ini. 


Rasulullah Muhammad SAW dalam waktu relative singkat dengan menggalang segenap potensi para sahabatnya telah berhasil melakukan transformasi sosial budaya masyarakat yang dahulunya jahiliyah, tuna peradaban, tidak bertauhid, diskriminatif, eksploitatif, materialistic, kapitalistik, dan hedonistic.


Rasululullah sukses dengan gemilang menghimpun kekuatan sosial baru yang memiliki keanggunan peradaban dengan mengedepankan nilai ketauhidan, mengedepankan kekuasaan Allah, membangun tatanan kemanusian yang berkeadaban, anti diskriminasi, mengembangkan prinsip keberlanjutan (sustainable), anti eksploitatif, mengembangkan philantropi, kepedulian terhadap manusia dan kemanusiaan, anti kapitalistik, berusaha mengembangkan ekonomi yang berpihak kepada kelompok lemah dan mustadafin, berusaha membebaskan budak, menghapuskan perbudakan dengan transformative, bukan dengan revolusi. Membangun kehidupan yang bersahaja, hemat, efisien, tidak berfoya-foya, tidak berlebih-lebihan, kehidupan yang serba berkecukupan, anti dengan gaya hidup yang hedonistic. 


Muhammad SAW hanya diberikan waktu oleh Allah SWT dalam durasi yang sangat singkat, tetapi capaian kerja yang cukup spektakuler, berbeda dengan para utusan-Nya yang lain, yang lama dan hanya untuk lokus dan focus tertentu.


Nabi Muhammad SAW bukan hanya pada komunitas tertentu tetapi untuk rahmat sekalian alam, segenap alam ciptaan Tuhan, akan mendapatkan kemanfaatan dari ajaran yang sudah diturunkan Allah SWT terhadap utusan-Nya Muhammad SAW. 


Capaian yang dahsyat diperloleh oleh Muhammad SAW berkat koordinasi, organisasional kuat, rapi dan tangguh dikembangkan oleh Rasulullah, mulai dari kohesifitas persahabatan, persaudaraan muhajirin dan anshar, serta ukhuwah yang mengikat segenap kaum muslimin, mukminin dan muttaqien.


Komunitas muslim memiliki hanya satu tujuan kehidupan, satu junjungan, satu pedoman dan tuntunan, yang menjadi kekuatan utama, yang disebut dengan ummat. Ummat menjadi entitas baru dari antithesis peradaban alternative dari peradaban jahiliyah, yang sekularistik, materialistic dan hedonistic.


Ummat mentransformasi peradaban baru menjadi peradaban yang berketuhanan, mengedepankan kemanusiaan, menjunjung tinggi kemaslahatan, mengembangkan tatanan yang harmonisasi, kasih sayang, persaudaraan, advokasi kaum tertindas dan mustad’afin.


Ummat menjadi kekuatan utama yang telah mampu mengalahkan segenap peradaban, sehingga menjadi pemenang dalam pentas peradaban dunia. Janji Allah SWT memberikan predikat kepada ummat sebagai komunitas terbaik, dapat memberikan pencerahan kepada segenap kekuatan sosial dunia dalam bentuk memberikan contah kebaikan dan mencegah segenap kekuatan sosial untuk berbuat kemungkaran.


Ummat yang telah menjalankan fungsi utamanya tersebut diberikan predikat oleh Allah SWT menjadi kekuatan pemenang, rujukan segenap kekuatan sosial politik dunia, juru damai, dan penentu tatanan sosial politik dunia. 


Kekuatan ummat mengalami pasang dan surut dalam perjalanan sejarah kehidupan di muka bumi ini. Kejayaan dan kemunduran ummat tergantung dari konsistensi, komitmen, dan kohesivitas keummatan-nya.


Di saat kohesivitasnya kuat, ummat menjadi penentu kehidupan dunia. Disaat kohesivitas, komitmen dan kosistensinya menurun, ummat mengalami kemunduran dan ketertinggalan. Di saat tertinggal ummat mengalami penetrasi sosial, budaya dan ekonomi yang cukup kuat.


Sumber daya alam ummat dieskploitasi oleh kekuatan asing, budaya ummat dipenetrasi oleh budaya asing, ummat nyaris tidak berdaya dalam berhadapan dengan kekuatan peradaban lain. 


Ketidakberdayaan ummat dalam segala hal, perlu menjadi perhatian utama, kajian mendalam, evalusasi yang jujur tentang bagaimana dengan ummat, mengapa ummat menjadi begini, dan bagaimana ke depan untuk membangun ummat yang terbaik, seperti yang dijanjikan Allah SWT.


Perjalanan politik kenegaraan telah membuat kekuatan ummat bercerai berai menjadi kekuatan kecil-kecil dalam bentuk negara kecil dengan berbagai anekaragam model dan system yang dimiliki. Tentu kekuatan politik yang dilola dengan keadaban rendah akan melahirkan system dan tatanan politik yang agak tuna adab. 


Kepentingan diri, golongan lebih dominan dibandingkan dengan perjuangan untuk keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran serta kemajuan. Hal inilah yang membuat segmentasi kekutan diantara ummat. 


Penghimpunan kekuatan ummat di luar politik dan kekuasaan, dalam bentuk strategi budaya, dengan menggalang kohesivitas muslimin, mukminin dan muttaqien dalam bentuk jamaah yang terorganisasi, terstruktur, terukur, dan progresive perlu dibangun untuk berusaha menjadi suluh peradaban.


Kekuatan alternative yang memberikan cahaya kepada segenap manusia untuk membangun sebuah tatanan ilahiah, pesan langit yang dibumikan, sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad