JAKARTA, POTRETKITA -- Tren aktivitas gempa tektonik di Indonesia mengalami peningkatan. Sedikitnya, sepanjang Januari-Juni 2021, tercatat sudah 4.701 kali gempa terjadi.
![]() |
| DR. Daryono.(katadata.id) |
Selain gempa tektonik, hal yang juga menjadi perhatian ahli dan praktisi kegempaan pada Juli ini adalah aktivitas gempa swarm di Teluk Semangka Tanggamus, Provinsi Lampung. Hingga Rabu (8/7), tercatat 352 kejadian gempa kendati jumlahnya menunjukkan tren menurun dari hari ke hari.
Menurutnya, gempa swarm adalah serangkaian aktivitas gempa dengan magnitudo relatif kecil dengan frekuensi kejadiannya sangat tinggi, dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama di wilayah sangat lokal.
Sebelum di Teluk Semangka, gempa swarm juga terpantau terjadi di Pulau Samosir dan seputaran Danau Toba Provinsi Sumatera Utara. Sepanjang 18 Februari hingga 11 Mei 2021, tercatat gempa swarm di Samosir ini mencapai 142 kali.
Nur Rochman Muhammad, Wien Lestari, dalam Firman Syaifuddin dalam artikelnya pada Jurnal Geosaintek menjelaskan, peristiwa gempa bumi dan tsunami merupakan bencana yang tidak bisa dihindari oleh masyarakat Indonesia, sebagai negara yang terletak pada jalur tektonik aktif dunia.
Akibat adanya pertemuan lempeng Indo-Australia pada daerah bagian Selatan Indonesia, menyebabkan kawasan ini memiliki nilai seismitas yang cukup tinggi. Salah satu kawasan yang sering terjadi peristiwa gempa dan tsunami yaitu berada di jalur subduksi Sunda.
Pada kawasan ini, terjadi beda densitas subduksi antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, akibat adanya perbedaan gaya kompresi pada kedua kawasan tersebut. Perbedaan densitas subduksi diketahui dari inversi data anomali gravitasi pada jalur subduksi Sunda untuk mengintepretasikan struktur regional pada area yang pernah terjadi gempa besar yang menyebabkan tsunami.
Sementara itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa tahun lalu menjelaskan, Indonesia menjadi pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Selain itu, sebagaimana dikutip dari gatra.com, Indonesia juga terletak di kawasan sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa , Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.
Fakta ini harus diyakini agar masyarakat Indonesia agar siap menghadapi segala kemungkinan bencana. Yang paling penting adalah mempersiapkan masyarakat agar selalu siaga melalui penyadaran publik mengenai mitigasi bencana, salah satunya lewat publikasi temuan ilmiah tentang kebencanaan.
Sampai saat ini, belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu secara akurat dan presisi memprediksi kapan datangnya bencana, terutama gempa bumi.(*/mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar