JAKARTA, POTRETKITA.net - Status Anak Gunung Krakatau meningkat dari Waspada level II jadi Siaga atau level III. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.
![]() |
| twitter esdm |
Peningkatan status gunung api yang terletak di antara Selat Sunda itu, diumumkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melalui siaran pers bernomor 175.Pers/04/SJI/2022 tanggal 25 Apri 2022.
"Menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari sebelumnya Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung sejak tanggal 24 April 2022, pukul 18.00 WIB. Masyarakat diminta untuk menyesuaikan peningkatan status ini dengan tidak beraktivitas dalam radius 5 Kilometer (km) dari kawah aktif," sebut rilis yang disiarkan Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerjasama Agung Pribadi.
Menurutnya, peningkatan status ini dilakukan setelah melihat hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Anak Krakatau menunjukkan adanya kenaikan aktivitas yang semakin signifikan.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono menjelaskan, Badan Geologi akan terus berkordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Provinsi Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pandeglang, dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat. Untuk informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten)," jelas Eko.
Kepala PVMBG Hendra Gunawan mengatakan, sejak 15 April 2022 Gunung Anak Krakatau terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. "Sejak tanggal 15 April 2022, secara visual sudah terekam hembusan asap maupun tinggi erupsi kolom dengan variasi dari setinggi 1.000 sampai 2.000 meter dari muka air laut, dan tiga hari terakhir sudah mencapai 3.000 meter," ungkap Hendra dalam konferensi pers siang hari ini.
Kalau kita melihat bagaimana kondisi tekanan yang ada di tubuh anak Krakatau, katanya, mulai terekam intensif sebetulnya sejak tanggal 21 April 2022 atau 3-4 hari yang lalu dan ini artinya berkorelasi dengan meningkatnya tinggi kolom abu yang menjadi 3.000 meter dari muka air laut.
Hendra menambahkan, peningkatan data emisi SO2 juga terlihat. Berdasarkan pantauan satelit Sentinel-5 (Tropomi) menunjukkan emisi SO2 mulai teramati pada tanggal 14 April dengan SO2 sebesar 28,4 ton/hari, meningkat menjadi 68,4 ton/hari pada 15 April dan meningkat drastis pada tanggal 23 April sebesar 9.219 ton/hari.
Pantauan SO2 dari magma ini, menurutnya, berkorelasi dengan peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini. Peningkatan SO2 yang signifikan mengindikasikan adanya suplai magma baru dan adanya material magmatik yang keluar ke permukaan berupa lontaran material pijar yang diikuti oleh aliran lava. Jumlah SO2 pada periode di atas mencapai 9,2 kilo Ton. Bila dibandingkan saat periode erupsi 2018, yaitu Juni-Agustus 2018 12,4 kilo Ton dan September-Oktober 2018 19,4 kilo Ton.
Sehubungan dengan potensi bahaya, Hendra menjelaskan berdasarkan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan hampir seluruh tubuh Gunung Krakatau yang berdiameter lebih kurang 2 Km merupakan kawasan rawan bencana.
Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2 km dari pusat erupsi, karena itu masyarakat yang bermukim atau yang beraktifitas di luar jarak radius 5 Km dari pusat kawah relatif aman.
"Potensi bahaya Gunung Anak Krakatau itu menjangkau hingga 5 km dari pusat kawah, sehingga masyarakat yang ada diluar 5 km itu tetap tenang, termasuk masyarakat yang melakukan mudik menggunakan transportasi kapal laut yang jaraknya puluhan kilometer (dari Gunung Anak Krakatau). Jadi relatif aman, tetapi untuk kehati-hatian diminta untuk tetap mengikuti update informasi yang dikeluarkan Badan Geologi," tutup Hendra.(*/mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar