Laporan Musriadi Musanif
(Wartawan Utama pada Harian Umum Singgalang)
PASAMAN
BARAT -- Areal kurang dari satu hektare itu bekas
ladang warga. Dahulu ditanami padi. Kini tinggal beberapa pohon durian yang
menjulang tinggi.
Tapi, ada yang baru di sana, pasca gempa
bermagnitudo 6,1 yang melanda bumi Pasaman Barat dan Pasaman pada Jumat
(25/2/2022), tepat dua bulan silam. Seratusan tenda memadati kawasan itu.
Berdiri dari pinggir jalan raya nan sempit
dan berlobang-lobang, lalu menukikkan pandangan ke kawasan itu, ada rasa ngilu
yang tiba-tiba menusuk hati. Iba. Air mata jatuh ke dalam, ketika melihat
anak-anak berlari, bercengkrama, dan merajut asa di tenda-tenda pusat
konsentrasi pengungsian warga Jorong Timbo Ateh, Nagari Persiapan Timbo Abu,
Kecamatan Talamau, Pasaman Barat.
Bocah itu memang gembira dalam suasana nan
amat nelangsa. Mereka tidak tahu, kenapa kenyataan yang sedang dihadapi itu
bisa terjadi.
Terlihat pua, sekelompok lelaki lanjut usia
(lansia) dan kalangan perempuan duduk berkelompok, Ada di dalam tenda tempat
tinggal, ada pula tenda yang difungsikan masjid darurat. Siang itu, lelaki yang
masih kuat bertenaga, sedang berada di sawah, ladang, dan rimba pinggang Gunung
Talamau mengais rezeki.
“Kami ingin pulang ke rumah. Ingin kembali
ke sekolah seperti dahulu. Tapi tidak bisa. Rumah kami hancur. Saya rindu
sekolah dan teman-teman. Sekolah kami juga rubuh,” ujar seorang pelajar Sekolah
Dasar (SD) yang mengaku trauma akibat gempa bumi yang menghentak kampung
mereka.
Di pojok lain, sekelompok gadis jolong
gadang, asik bercerita sesama mereka. Ada yang sedang mengerjakan tugas
sekolah, ada juga yang meraut mambu untuk dijadikan layang-layang. Mereka masih
duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Berbeda dengan murid-murid SD yang takut ke
sekolah dan enggan belajar di tenda, gadis-gadis SMP itu secara berkelompok
tetap pergi sekolah. “Lai, kami pai sakola di bawah. Agak jauah juo daghi siko
(Ada, kami pergi juga ke sekolah yang letaknya di bawah, agak jauh dari sini),”
sebut seorang.
Kendati memperlihatkan raut senang. Tetapi
mereka tidak sedang baik-baik. Ada kerinduan mendalam untuk kembali hidup
sebagaimana dulu. Di rumah-rumah yang disiapkan para orangtua mereka. Tempat
berteduh. Sarana bernaung merajut hari-hari menuju masa depan yang masih
panjang. Apalagi, sebentara lagi hari raya akan datang. Lebaran Idul Fitri 1443
Hijriyah.
Di pusat konsentrasi pengungsian Timbo Abu
Ateh itu, hingga kini masih terlihat 30-an anak-anak pengungsi dari 17 kepala
keluarga (KK), mulai dari bayi dan balita, sampai kepada anak-anak dan remaja.
Mereka berlindung di bawah tenda-tenda terbuat dari kain, nan menekan jiwa dan
memukul perasaan.
“Belum tahu entah sampai kapan kami di
sini. Memang ada petugas yang menyuruh pulang. Tapi mau pulang kemana? Rumah
yang dibangun susah-payah sejak 21 tahun lalu, baru dua bulan kami tempati, runtuh
dan rata dengan tanah. Mau pulang ke situ? Tentu tidak mungkin,” ujar seorang
lelaki, ketika Singgalang ikut bergabung dengan mereka yang sedang asik
merenda nasib di masjid darurat, usai menunaikan Shalat Dzuhur.
Warga yang masih bertahan di tenda pengungsian
itu, memang tidak punya apa-apa lagi. Rumah roboh, peralatan rumah tangga
patah-patah. Alat-alat dapur rusak tak bisa dipakai lagi. Nelangsa di tenda
menjadi pilihan pahit getir tanpa alternatif.
Beberapa pengungsi terlihat sudah meninggalkan
tenda dan kembali ke rumah. Mereka tidak benar-benar kembali ke rumah, tetapi
ke sebuah hunian sementara (huntara) nan sempit dan panas. Huntara itu dibangun
oleh lembaga-lembaga kemanusiaan di lahan kosong, dekat rumah mereka yang rusak
berat dan tak bisa ditempati lagi.
Bagi keluarga-keluarga muda atau keluarga
tua tapi sudah memiliki anak gadis, hidup di tenda atau huntara, sama saja
nelangsanya. Tak dapat diceritakan dengan kata-kata, ataupun dituliskan dalam
bentuk alfabet dan deretan huruf.
“Semoga adik-adik semua kuat. Jaga dirti. Terus
belajar. Derita ini pasti akan berakhir. Allah tidak memberi ujian kepada
hamba, kalau hamba itu tak mampu menghadapinya,” sebut Komisioner Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Jasra Putra membakar semangat, saat
mengunjungi tenda demi tenda, Sabtu (23/4).
Jasra, didampingi Ketua Muhammadiyah
Disaster Management Center (MDMC) Wilayah Sumatera Barat H. Marhadi Efendi,
mendatangi satu persatu tenda pengungsi itu, khususnya tenda-tenda yang dihuni
keluarga yang memiliki bayi, balita, anak-anak, dan remaja.
Melihat kondisi demikian, Jasra mendesak
pemerintah daerah agar mempercepat realisasi huntara, sehingga tenda-tenda yang
sudah berusia dua bulan itu bisa ditinggalkan. Dia juga meminta agar sarana dan
prasarana pendidikan disegerakan, agar anak-anak itu bisa kembali bersekolah
dengan aman dan nyaman.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar