Merenda Asa dari Tenda-tenda Nelangsa - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

25 April 2022

Merenda Asa dari Tenda-tenda Nelangsa

Laporan Musriadi Musanif

(Wartawan Utama pada Harian Umum Singgalang)

 

PASAMAN BARAT -- Areal kurang dari satu hektare itu bekas ladang warga. Dahulu ditanami padi. Kini tinggal beberapa pohon durian yang menjulang tinggi.

 


Tapi, ada yang baru di sana, pasca gempa bermagnitudo 6,1 yang melanda bumi Pasaman Barat dan Pasaman pada Jumat (25/2/2022), tepat dua bulan silam. Seratusan tenda memadati kawasan itu.

 

Berdiri dari pinggir jalan raya nan sempit dan berlobang-lobang, lalu menukikkan pandangan ke kawasan itu, ada rasa ngilu yang tiba-tiba menusuk hati. Iba. Air mata jatuh ke dalam, ketika melihat anak-anak berlari, bercengkrama, dan merajut asa di tenda-tenda pusat konsentrasi pengungsian warga Jorong Timbo Ateh, Nagari Persiapan Timbo Abu, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat.

 

Bocah itu memang gembira dalam suasana nan amat nelangsa. Mereka tidak tahu, kenapa kenyataan yang sedang dihadapi itu bisa terjadi.

 

Terlihat pua, sekelompok lelaki lanjut usia (lansia) dan kalangan perempuan duduk berkelompok, Ada di dalam tenda tempat tinggal, ada pula tenda yang difungsikan masjid darurat. Siang itu, lelaki yang masih kuat bertenaga, sedang berada di sawah, ladang, dan rimba pinggang Gunung Talamau mengais rezeki.

 

“Kami ingin pulang ke rumah. Ingin kembali ke sekolah seperti dahulu. Tapi tidak bisa. Rumah kami hancur. Saya rindu sekolah dan teman-teman. Sekolah kami juga rubuh,” ujar seorang pelajar Sekolah Dasar (SD) yang mengaku trauma akibat gempa bumi yang menghentak kampung mereka.

 

Di pojok lain, sekelompok gadis jolong gadang, asik bercerita sesama mereka. Ada yang sedang mengerjakan tugas sekolah, ada juga yang meraut mambu untuk dijadikan layang-layang. Mereka masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

 

Berbeda dengan murid-murid SD yang takut ke sekolah dan enggan belajar di tenda, gadis-gadis SMP itu secara berkelompok tetap pergi sekolah. “Lai, kami pai sakola di bawah. Agak jauah juo daghi siko (Ada, kami pergi juga ke sekolah yang letaknya di bawah, agak jauh dari sini),” sebut seorang.

 

Kendati memperlihatkan raut senang. Tetapi mereka tidak sedang baik-baik. Ada kerinduan mendalam untuk kembali hidup sebagaimana dulu. Di rumah-rumah yang disiapkan para orangtua mereka. Tempat berteduh. Sarana bernaung merajut hari-hari menuju masa depan yang masih panjang. Apalagi, sebentara lagi hari raya akan datang. Lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah.

 

Di pusat konsentrasi pengungsian Timbo Abu Ateh itu, hingga kini masih terlihat 30-an anak-anak pengungsi dari 17 kepala keluarga (KK), mulai dari bayi dan balita, sampai kepada anak-anak dan remaja. Mereka berlindung di bawah tenda-tenda terbuat dari kain, nan menekan jiwa dan memukul perasaan.

 

“Belum tahu entah sampai kapan kami di sini. Memang ada petugas yang menyuruh pulang. Tapi mau pulang kemana? Rumah yang dibangun susah-payah sejak 21 tahun lalu, baru dua bulan kami tempati, runtuh dan rata dengan tanah. Mau pulang ke situ? Tentu tidak mungkin,” ujar seorang lelaki, ketika Singgalang  ikut bergabung dengan mereka yang sedang asik merenda nasib di masjid darurat, usai menunaikan Shalat Dzuhur.

 

Warga yang masih bertahan di tenda pengungsian itu, memang tidak punya apa-apa lagi. Rumah roboh, peralatan rumah tangga patah-patah. Alat-alat dapur rusak tak bisa dipakai lagi. Nelangsa di tenda menjadi pilihan pahit getir tanpa alternatif.

 

Beberapa pengungsi terlihat sudah meninggalkan tenda dan kembali ke rumah. Mereka tidak benar-benar kembali ke rumah, tetapi ke sebuah hunian sementara (huntara) nan sempit dan panas. Huntara itu dibangun oleh lembaga-lembaga kemanusiaan di lahan kosong, dekat rumah mereka yang rusak berat dan tak bisa ditempati lagi.

 

Bagi keluarga-keluarga muda atau keluarga tua tapi sudah memiliki anak gadis, hidup di tenda atau huntara, sama saja nelangsanya. Tak dapat diceritakan dengan kata-kata, ataupun dituliskan dalam bentuk alfabet dan deretan huruf.

 

“Semoga adik-adik semua kuat. Jaga dirti. Terus belajar. Derita ini pasti akan berakhir. Allah tidak memberi ujian kepada hamba, kalau hamba itu tak mampu menghadapinya,” sebut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Jasra Putra membakar semangat, saat mengunjungi tenda demi tenda, Sabtu (23/4).

 

Jasra, didampingi Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Wilayah Sumatera Barat H. Marhadi Efendi, mendatangi satu persatu tenda pengungsi itu, khususnya tenda-tenda yang dihuni keluarga yang memiliki bayi, balita, anak-anak, dan remaja.

 

Melihat kondisi demikian, Jasra mendesak pemerintah daerah agar mempercepat realisasi huntara, sehingga tenda-tenda yang sudah berusia dua bulan itu bisa ditinggalkan. Dia juga meminta agar sarana dan prasarana pendidikan disegerakan, agar anak-anak itu bisa kembali bersekolah dengan aman dan nyaman.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad