Oleh Dr. Suhardin, S Ag., M Pd.
(Dosen UIC Jakarta dan LDK PP Muhammadiyah)
PUASA yang dilaksanakan sebulan penuh dengan kaifiyah tepat dan benar sesuai dengan tuntunan sunnah Rasul. Lepas dari mazhab yang digunakan, insya Allah berbuah kepada ketaqwaan.
Ketaqwaan yang hakiki dalam kehidupan berwujud menjadi orang yang sodiqun, benar, lurus, istiqomah kepada kebaikan yang substantif dalam segala dimensi kehidupan. Orang yang sodiqun, senantiasa dalam keimanan terhadap yang ghaib; Allah SWT tempat bergantung segala makhluk, hari akhir dengan segala pertanggungjawaban, kitab Allah yang menjadi pedoman hidup dan sumber inspirasi serta kreatifity, malaikat yang senantiasa bersama manusia dan akuntability segala hal yang dilakukan manusia.Kepedulian, senantiasa berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, prioritas karib kerabat, anak yatim dan orang-orang miskin, mereka yang tergilas dan tertindas oleh dahsyatnya pembangunan yang tuna justice (keadilan).
Orang betaqwa terlihat dari konsistensi dalam ibadah mahdah dan ibadah sosial, shalat dan zakat, hubungan dengan Allah SWT sang khalik terpelihara, terjaga dan kewajiban kemanusian ditunaikan, mengeluarkan zakat, hak asnaf dalam harta benda yang dikuasai, untuk kebersihan dan keberkahannya.
Komitmen dalam janji, berpegang teguh dengan prinsip, bukan mencla-mencle, bersandiwara dengan wajah yang diselimuti topeng, dalam rangka pencitraan diri. Sabar dalam ujian dan penderitaan, memiliki self adversity, ketahanan terhadap derita, nestapa yang dihadapi sebagai ujian Allah SWT, tetap konsisten dengan regulasi, prosedural, dan antrian dalam akses terhadap sesuatu, bukan menerobos, sebagai aji mumpung.
Taqwa dalam konteks muhsinin, meningkatkan secara berkelanjutan (sustainability) kesalahen diri dan kesalahen sosial dengan tetap menjaga kepedulian terhadap sesama makhluk Allah sebagai moral altruism, manusia, makhluk ciptaan Allah dan lingkungan sekitar, dalam dalam kondisi lapang dan kondisi susah.
Senantiasa beristigfar, minta ampunan Allah, sekalipun sudah mengalami penzaliman diri, tergelincir dalam momentum kemaksiatan, cepat kembali dan meninggalkan perbuatan maksiat tersebut sebagai wujud nyata pertaobatan kepada Allah SWT.
Ketaqwaan personal manusia, berdampak personal integrity dan social community dalam kehidupan sosial, budaya, dan politik. Dampak utama yang dapat dirasakan di dunia, pertama, Allah SWT memberikan solusi terbaik, tepat, cepat dan limpahan rezeki dari arah yang tidak di duga. “Waman yattaqillah yajngallahu makhraja. Wayarzuqhu min haysyu la yahtasyib” (barang siapa bertqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan memberi rezki dari arah yang tidak disangka-sangka). QS. At-Talaq (65):2-3.
Kedua, diberikan Allah keberkahan dari langit dan dari bumi. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” QS. Al-Araf (7):96.
Sandaran vertikal yang kokoh kepada Allah SWT menghasilkan ketelitian, kehati-hatian, dan kebijakan (wisdom). Buah vertikalisasi terhadap Allah menghasilkan harmonisasi kehidupan dengan alam semesta, memuliakan lingkungan hidup, peduli dengan kehidupan manusia manusia dan kelangsungan hidup makhluk di sekitar dalam bentuk biodiversity (kerapatan dan kepadatan makhluk hidup).
Morality yang membuahkan perilaku dan tindakan kemanusiaan (human behaviorism) menjaga harmonisasi alam, pastilah akan mendatangkan keberkahan, kebaikan terhadap semua makhluk yang hidup di alam raya (moral altruism). Kelangsungan hidup makhluk terjaga (life sustainablitiy), keseimbangan alam tercipta (equilibrium food), rantai makanan dan rantai kehidupan makhluk terurai dengan baik (food chains, life chains, cicle life).
Harmonisasi alam ini menjamin kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan pada rotasi dan mutasi yang sudah digariskan, ditetapkan dan ditentukan oleh Allah SWT sebagai pencipta, pengatur, pelindung dan penentu kehidupan. Interaksi yang yang harmoni menghasilkan manfaat dan keberkahan yang melimpah ruah datang dari Allah dari atas langit dan di dalam perut bumi.
Keserahakan dan kebohongan manusia terhadap ketentuan dan ketetapan Allah SWT dalam ayat qauliyah, Alquran dan ayat kauniyah-Nya, kausalitas dan fenomena alam. Hal ini membuat Allah menurunkan siksa-Nya. Alam tidak bersahabat karena sudah terjadi dis harmonisasi, hutan (forestry) yang berfungsi menjadi penyangga keseimbangan temperatur bumi, habitat biodiversity, pengendali hidronisasi, telah dilakukan desforestrasy, hutan berubah menjadi pemukiman baru, kota baru, perkebunan, sehingga alam tidak memiliki keseimbangan (equilibrium) lagi, bencana banjir, longsor, angin topan, badai kencang, angin puting beliung, dan terjadilah pemanasan global yang mendatang effect global yang menakutkan, anomali iklim, musim yang tidak menentu, cuaca ekstrem, panas yang tidak ketulungan, dingin yang mencekam, air laut yang makin naik, daratan yang makin berkurang, beberapa pulau menghilang, beberapa pantai abrasi, petani gagal panen, tanah yang mengalami fuso.
Kejahatan manusia bukan hanya sampai di situ, beberapa potensi alam yang meghasilkan rejeki melimpah, juga di rusak dan dihancurkan. Lautan sebagai pemberi rejeki dengan keanekragaman hasil tangkapan ikan, dilakukan eksploitasi yang berlebihan, penggunaan trowl (pukat harimau), menghancurkan terumbu karang dan merusak habitat ikan, yang berakibat punahnya flora dan fauna laut.
Manusia yang tuna literacy, tuna morality, tuna ekologis melakukan pengeboman laut untuk mendapatkan ikan cepat dan instan, jelas dan terang menghancurkan biodiversity yang ada di laut, karang laut hancur, habitatnya punah, ekositem hilang, sehingga menjadikan laut mati.
Demikian juga halnya di daratan yang banyak menyimpan keberkahan berupa mineral, emas, perak, tembaga batu bara, ditambang oleh manusia serakah yang berpikir pendek dan bernafsu bahimiah (kebinatangan), melakukan eksplotatif yang tak terencana dan terukur yang penting profitabilitas.
Tidak peduli dengan keseimbangan alam, tidak ada analisis dampak lingkungan, tidak ada kepedulian terhadap warga setempat, tidak ada kehirauan tentang masa depan. Mereka berpikir hidup sekarang, kemewahan duniawi, kehidupan yang hedonistik. Lingkungan hancur, habitat rusak, biodiversity punah, alam mulai murka dan mengamuk.
Buaya yang menjadi predator utama dalam siklus kehidupan (life cycle), sekarang mengamuk di tempat-tempat yang dekat dengan kehidupan manusia, di tepian tempat mandi, dipantai, perkebunan warga, di anak sungai. Harimau yang berada di lapisan dalam kehidupan di hutan rimba yang lebat, sekarang pergi ke perkampungan, mengganggu kehidupan warga. Manusia tidak nyaman lagi hidup di lingkungannya sendiri, akibat kepongahan, kerakusan, dan kelemahan aparat pemerintah.
Ketiga, ketaqwaan yang istiqomah dilakukan manusia sekalipun dengan aneka ragaman tantangan dan rintangan, Allah akan memberikan ampunan dan balasan sorga kepada orang-orang yang bertaqwa. “Balasan bagi mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang yang beramal”. QS. Ali Imran (3): 136.
Orang yang bertaqwa disambut oleh malaikat Allah SWT dan diantarkan ke dalam sorga secara berombongan: “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya diantar ke dalam sorga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga) dan pintu-pintu telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka. “Kesejahteraan dilimpahkan kepada atasmu, berbahagialah kamu! Maka masuklah kamu kekal di dalamnya”. QS. Az-Zumar (39):73.
Inilah benefite, keuntungan besar bagi orang yang bertaqwa, istiqomah dengan ketaqwaan sampai dengan kadar umur yang sudah diberikan Allah SWT sehingga mati mampu mengendalikan diri dalam wilayah nafsu muthamainnah dan mati dalam kondisi husnul khatimah.
Keuntungan dunia tidak memiliki persoalan yang berat, buntu yang berujung kepada tragedy kehidupan, Allah memberikan jalan keluar dari aneka persoalan kehidupan yang membelit (solusi tepat). Allah memberikan rezeki dari berbagai pintu yang tidak diduga, diestimasi sebelumnya (unlimited opportunity) dan terakir Allah memberikan kehidupan panjang dan kekal di dalam sorga.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar