Buaya Beradab - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

10 Mei 2022

Buaya Beradab

Oleh Dr. Suhardin, S Ag., M Pd.

(Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)


BUAYA adalah reptil predator yang hidup di air tawar rawa-rawa dan di muara. Orang kampung menyebutnya dengan inyiak. Leluhur yang sudah tua hidup menempati habitat tertentu di lingkungan yang khusus.


Sewaktu air sungai bersih buaya tidak pernah menampakkan dirinya, ia nyaman dalam habitatnya, rawa-rawa yang bersih tidak tercemar, ia beranak pinak di sana. Demikian juga buaya muara, ia tidak pernah sekalipun memperlihatkan diri, ia nyaman hidup di muara, air payau antara tawar dan asin. 


Buaya menikmati makanan dari jenis ikan dan jenis hewan sebangsanya, katak, dan ular. Tidak pernah menganiaya manusia dan juga tidak pernah menakut-nakuti manusia. Ia hidup dengan alamnya secara leluasa. Dari kajian rantai makanan (food chain) yang kita ketahui, buaya sosok hewan predator di sungai. Ia termasuk raja sungai, persis dengan harimau dan singa di daratan. 


Buaya akan terlihat agresif tatkala lagi bertelur. Buaya jantan dan betina bersama-sama menunggu telurnya menetas selama lebih kurang delapan puluh hari. Jantan dan betinanya sang buaya ditentukan oleh suhu, temperatur, suhu tinggi akan menetaskan buaya jantan dan suhu dingin akan menetaskan buaya betina. Cromosom jantan dan betina tidak diturunkan oleh bapak dan ibuknya si buaya. 


Sehubungan dengan pembukaan lahan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan dalam radius puluhan ribu hektar, dengan tidak ada rambu terkait dengan proporsional kebun dan hutan (forestry), dalam rangka penyangga ekosistem dan hidronisasi serta climatisasi, habitat buaya jadi terganggu.


Buaya sekarang sudah menjadi binatang gelandangan, tuna wisma, akibat habitatnya tergangu. Gangguan utama yang dirasakan, dijarahnya beberapa rawa-rawa yang menjadi habitat utama buaya, dengan menanam kelapa sawit. Sawit sangat baik di lahan rawa, karena tumbuhan ini jenis yang sangat rakus dengan air. 


Kemudian pemupukan sawit dari jenis urea, ZA, yang mengandung berbagai unsur, nitrogen, kalium, fosfor,magnesium, semuanya tertumpah ke sungai, membuat sang buaya inyiak yang dihormati manusia itu tergangu dalam kenyamanan hidup.


Sekarang buaya mulai hidup mendekati habitat manusia. Ia sudah berjemur di pasir, bahkan buaya muara di Batahan di malam hari, tidur nyenyak di pelantaran tempat usaha pengeringan ikan warga. Mungkin beliau mencari tempat peristirahatan yang lebih nyaman, tidak kuat bernapas di sungai yang sudah dicemari oleh berbagai unsur kimiawi yang dapat mematikan makhluk di sekitarnya. 


Buaya sosok binatang yang sangat memiliki adab, akhlak dan sopan santun yang tinggi. Ia tidak menganiaya manusia. Manusia dan buaya berinteraksi dengan baik dan harmonis. Kebiasaan orang Batahan yang suka mencari kerang, lokan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, sering berpapasan dengan buaya. Buaya juga sangat menikmati lokan tersebut sebagai alas tubuhnya di dasar sungai.


Manusia, para pencari lokan dapat menyapa sang buaya dengan mengatakan "Inyiak kami mencari makan untuk menghidupkan keluarga, mohon kami jangan diganggu”. Dengan sopan sang buaya beranjak dari tempat peraduannya, mempersilakan mansuai untuk mengambil kasur empuknya tersebut untuk di selami, tidak ada agresivitas sang predator tersebut. 


Manusia yang dilengkapi ciptaanya, punya nurani, punya otak, punya ilmu, malah tidak berpikir dan menyisihkan pembangunan untuk kepentingan makhluk ciptaan Tuhan dalam sistem ekologis, tetapi buaya lebih beradab dengan memberikan kesempatan manusia untuk mengais rejeki. Inilah kedzaliman manusia yang lebih kejam dari binatang. Wallahu alam.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad