![]() |
| ilustrasi farah.id |
(Dosen Universitas Iibnu Chaldun Jakarta)
IKHLAS manifestasi dari tauhid, semua yang diperbuat dan diberi disandarkan kepada Allah SWT. Pemilik, pengatur, pemberi dan terpulang segala hal yang ada di alam semesta ini.
Pemilik hak mutlak ketuhanan, kecintaan, ketundukan, kethaatan dan pengabdian hanya tertuju kepada-Nya. Keikhlasan bukan diartikan semua yang dikerjakan tanpa upah dan tanpa penghargaan. Keikhlasan pekerjaan yang dilakukan dengan niat pengabdian kepada Allah melalui pekerjaan yang dilakukan.
![]() |
| Dr. Suhardin, M.Pd. |
Orang yang ikhlas disebut dengan mukhlis, semua yang dilakukan terhubung dan dikembalikan kepada Allah SWT. Orang-orang ikhlas akan dapat melakukan pekerjaan hanya semata karena Allah dan ihsan terhadap sesama. Pekerjaan dilakukan secara quality insurence (jaminan mutu), spectabiltas (sesuai standar), specification (sesuai jenis) dan akuntabiltas.
Hasil pekerjaan dapat dinikmati oleh semua pihak dalam wujud maslahah (jaudah al-ada), kebaikan untuk manusia dan makhluk ciptaan Allah SWT.
Keimanan tetap dibarengi oleh Allah SWT dengan amal shaleh. Wujud keimanan kepada Allah SWT akan terukur secara faktual dalam amal shaleh yang dilakukan dengan tepat dan benar. Amal shaleh yang dilakukan oleh seorang mukminin bukan hanya bersandar kepada Allah SWT, tetapi harus tepat dan benar dalam standar Allah SWT, sesuai dengan ketentuannya yang termaktub dalam kitab suci yang telah diinterpretasikan dan diaksiologiskan oleh para ilmuwan. Ketepatan dan kemanfaatan amal jariyah seorang mukhlisin dapat dirasakan secara berkesinambungan oleh masyarakat khsususnya dan semua makhluk ciptaan Tuhan secara umum.
Orang ikhlas tidak merasa kecewa apabila ia diberhentikan dalam struktur jabatan tertentu dalam institusi yang pernah memberikan amanah terhadap-Nya. Ia akan legowo, rela tanpa paksaan meninggalkan sebuah legacy, warisan karya tertentu yang dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Ini bagian dari pengabdian kepada Allah SWT yang dianugerahkan pahala sepanjang masa, sampai bertemu dengan-Nya. Ia tidak pernah melakukan claim bahwa apa yang dikerjakan adalah atas prestasi dirinya, karena ia yakin bahwa semua yang dilakukan atas kehendak, iradah Allah dan pertolongan semua pihak, ditakdirkan oleh Allah SWT berhasil dimasa kepemimpinannya. Ia dengan merendahkan diri kepada Allah SWT dan bersimpati kepada semua pihak yang membantunya. Keberhasilan adalah kesuksesan semua pihak, bukan kehebatan dan kejumawaan dirinya.
Di balik keikhlasan ada personal culas, yang berusaha untuk menarik simpati dengan memakai jubah kegamaan, menyusun kekuatan untuk menguasai sebuah institusi tertentu. Ia pelajari titik-titik kelemahan institusi tersebut untuk dijadikan amunisi menghantam beberapa orang terkait yang tidak mendukungnya.
Ia mempropagandakan bahwa beberapa kemajuan yang dilakukan di masa kepemimpinannya adalah karena kehebatan dan popularitas dirinya di media sosial dan kedekatannya dengan para personal kuat di negara ini. Ia adalah pemimpin sejati yang tidak ada pengganti. Ia seorang jumawa yang harus memiliki totalitas penguasaan pada institusi. Ia perlu banyak disematkan anekaragam gelar, untuk meyakini para pihak atas kehebatan dan keagungan dirinya.
Semua yang ada pada institusi adalah kehebatan diri dan kroninya. Ia tidak boleh diganti tetapi harus memiliki posisi sentral dan strategis dalam lembaga. Kekuasaan harus ada pada dirinya, sekalipun tidak dalam jabatan formal. Jabatan formal dapat diberikan kepada orang yang selalu loyal dan mengagungkan dirinya. Semua yang tidak suka terhadapnya, apalagi menantang dan mengkritiknya harus dibuang dan tidak mendapat tempat dan akses sturuktur dalam institusi yang tengah dikuasainya.
Keculasan sebagai lawan keikhlasan bentuk dari kesewenangan, kedhaliman akibat haus dengan kekuasaan untuk menumpuk kekayaan. Jabatan posisi strategis yang digunakan untuk promosi diri dan bargaining posisi dengan berbagai pihak mendapatkan akses jabatan yang lebih tinggi dan penghasilan secara pragmatis.
Semua yang dilakukan ada massanya dalam batasan waktu tertentu. Setiap masa ada orangnya. Roda sejarah terus berputar, demikian teori yang dikembangkan oleh pemikir peradaban Ibnu Khaldun. Maka yang berjabatan instrospeksi diri, bahwa jabatan, amanah, kewenangan yang diberikan Allah SWT melalui orang tertentu perlu dimanfaatkan untuk pengabdian kepada-Nya, sehingga kita benar-benar menjadi hamba-Nya dan dimasukkan ke dalam tempat yang telah disiapkan-Nya, janganlah sebaliknya. Wallahu musthaan. Nasharun Minallah.(*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar