TANAH DATAR, POTRETKITA.net - Sebuah telaga fenomenal dan penuh legenda di Nagari Atar, Kecamatan Padang Ganting, sepanjang liburan lebaran Idul Fitri 1443 H dipadati pengunjung, baik yang berasal dari wilayah Kabupaten Tanah Datar maupun perantau yang pulang kampung.
![]() |
| Talago Biru di Nagari Atar. |
“Pengunjung sangat ramai. Pada hari pertama lebaran Idul Fitri saja tercatat sekitar 2.300 orang,” ujar Efrison usai menggelar pertemuan Monitoring dan Evaluasi (Monev) bersama jajaran terkait di kawasan wisata tersebut.
Menurutnya, sekitar 30 pedagang juga berkesempatan memanfaatkan momen itu, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan mereka.
Bukan hanya menyediakan pemandangan untuk menatap air di telaga, para pengelola juga melengkapinya dengan berbagai fasilitas, di antaranya sepeda wisata, flying fox, karpet aladin, jelajah talago, aneka kuliner spesifik, dan hiburan berbasis kesenian anak nagari.
Talago Biru disebut fenomenal, karena juga memiliki legenda yang hingga kini masih diceritakan turun-temurun oleh masyarakat Atar. Salah satu keunikan yang terdapat di telaga ini adalah lantaran terletak di ketinggian perbukitan, sehingga menghasilkan panorama mengagumkan, ketika pandangan ditukikkan ke sekeliling kawasan.
Air telaga yang terletak di Jorong Taratak VIII itu tidak pernah kering, kendatipun di musim kemarau. Dengan demikian, keberadaannya menjadi sumber air masyarakat sangat terjaga, kendati untuk mengairi lahan pertanian masih memerlukan pembangunan jaringan irigasi untuk mengalirkan airnya ke sawah-sawah.
Cerita yang berkembang di masyarakat, Talago Biru juga memberi sinyal akan adanya wabah penyakit, sehingga warga bisa bersiap-siap. Kalau pada hari-hari biasa, airnya berwarna biru, lalu sedikit agak keruh ketika usai hujan lebat. “Tapi kalau warna airnya sudah agak kemerah-merahan, itu pertanda akan ada wabah penyakit,” sebut Zainir, seorang warga.
Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, bila pertanda muncul dengan perubahan warna air telaga itu, wabah penyakit itu di antaranya sakit perut dan sakit mata.
Legenda lainnya terkait dengan proses terjadinya telaga. Dahulu kala, telaga itu adalah kubangan dan tempat mandi seekor kerbau yang bertanduk emas. Bila sudah segar, maka kerbau itu akan kembali meninggalkan telaga untuk mencari makan.
Nah, bila legenda ini dikemas sedemikian rupa sebagai sebuah cerita rakyat, maka tidak menutup kemungkinan memancing rasa penasaran. Kalau sudah penasaran, dapat dipastikan, wisatawan akan datang ke Talago Biru, kendati tidak sedang menikmati liburan lebaran.(musriadi musanif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar