Pesona Liburan Lebaran di PDIKM - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

09 Mei 2022

Pesona Liburan Lebaran di PDIKM

PADANGPANJANG, POTRETKITA.net - PDIKM Kota Padangpanjang pada libur lebaran Idul Fitri 1443 H kian menunjukkan eksistensinya. Berbagai kegiatan dihelat di situ. Wisatawan pun berkunjung ke situ, terutama kalangan pelajar dan perantau yang pernah belajar di kota berjuluk Serambi Mekah tersebut.


Bagi perantau dan mereka yang pernah menuntut ilmu di Padangpanjang, berkunjung ke Pusat Dokumentasi dan Informas Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) merupakan nostalgia yang tiada tara.


"Semasa sekolah dahulu, kami sering ke sini untuk belajar di alam lepas. Apalagi setelah dilengkapi pula dengan Minang Village," ujar Anas (52), warga Riau yang pernah belajar di Padangpanjang pada 1985-1988 silam.


Minang Village yang disebutnya itu, kini sudah berubah menjadi Minang Fantasi (Mifan), yakni wahana wisata air dan cottage yang dikembangkan investor. Beberapa bangunan rumah gadang Minangkabau yang menjadi ciri khas Minang Village, hingga kini masih dapat ditemukan di areal Mifan.


BACA JUGABustanul Arifin, PDIKM, dan Kemegahan Padang Panjang


Kepala Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Padangpanjang Reynol Oktavian menjelaskan, untuk menyemarakkan lebaran, pihaknya menghelat Festival PDIKM II sejak hari ketika lebaran hingga Sabtu (7/5) akhir pekan kemarin. Berbagai kegiatan diselenggarakan, terutama yang berkaitan dengan adat budaya Minangkabau.


"Banyak alumni lembaga-lembaga pendidikan di Padangpanjang yang berkunjung dan menikmati suguhan Festival PDIKM II itu. Mereka juga menggelar kegiatan silaturahmi dan menghabiskab waktu liburan bersama keluarga dan karib kerabat di sini," ujarnya, sebagaimana dikutip dan disiarkan Dinas Kominfo Kota Padangpanjang yang diakses pada Senin (9/5).


Menurutnya, untuk mendukung kegiatan, pihaknya membentuk beberapa tim, mulai dari penyambutan wisatawan, penjaga rumah gadang, pertugas parkir, dan tempat penjualan karcis. Fasilitas dan sarana pendukungnya juga sudah dilengkapi, termasuk penyewaan pakaian adat, fotografer, dan live music.


PDIKM memang merupakan salah satu destinasi fenomenal di kota kecil yang berada di kaki Gunung Marapi dan Singgalang itu. Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, kawasan ini juga banyak dikunjungi para peneliti dan ilmuan dari berbagai daerah, termasuk dari Malaysia dan Negeri Belanda.


Kawasan yang terletak di lahan sekitar dua hektar dengan bangunan utamanya adalah rumah gadang tempat terdokumentasinya dengan baik berbagai referensi dan manuskrip, mulai dibangun pada 8 Agustus 1988 dan diresmikan 19 Desember 1990. Tidak kurang dari tiga ribu dokumen tentang adat budaya Minangkabau tersimpan rapi di museum ini.


Data yang diperoleh dari beberapa sumber di jaringan internet, pada 17 Desember 1990 atau dua hari menjelang peresmiannya, koleksi yang terdapat di PDIKM sudah cukup banyak, buku-buku sebanyak 2.206 eksemplar, majalah (1.500), album foto (100), poster (600), micro film (100 rol), kaset (126), alat kesenian 15 jenis, dan lain-lain.


Mahasiswa IAIN Batusangkar Fani Ruktami dalam skripsinya berjudul Sistem Informasi Pengolahan Data Kebudayaan Minangkabau Berbasis Web menuliskan, koleksi buku yang terdapat di PDIKM merupakan buku-buku tentang Minangkabau yang diterbitkan sebelum 1942, menggunakan tulisan Arab Melayu dan Latin, berbahasa Belanda, Minangkabau, dan lain-lain. Sedangkan koleksi fotonya, sebagian besar ada repro dari foto-foto lama,mulai dari zaman sebelum perang dunia kedua.


Bangunan utama di Komplek PDIKM itu kini sering pula disebut sebagai Museum Bustanul Atifin, pendiri Yayasan Dokumentasi an Informasi Kebudayaan Minangkabau (YDIKM) yang merintis, mendirikan dan mengembangkan kawasan PDIKM itu.


Bangunan utamanya merupakan hasil kolaborasi antara dua orang yang berpengaruh kala itu; Bustanil Arifin putra asli Padang Panjang yang pernah menjabat sebagai kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) dan menteri Koperasi, serta Anas Navis yang merupakan adik dari A.A Navis beserta rekannya Pau yang merupakan dosen IKIP Padang kala itu. 


Pada 1 Desember 2015 yang bertepatan dengan Hari Jadi Kota (HJK) Padang Panjang, dilakukanlah serah terima hibah YDIKM dari keluarga besar Bustanil Arifin kepada Pemko pada sidang paripurna HJK ke-225. Saat penyerahan itu, seluruh keluarga besar Bustanil Arifin, baik yang di dalam negeri maupun luar negeri, datang untuk hadir menyaksikan penyerahan hibah YDIKM ke Pemko.


Hal ini membuat istri Alm. Bustanil Arifin, Raden Ayu Suhardani yang sudah memasuki usia lanjut, merasa sangat bahagia. Karena pada momentum itu keluarga besarnya dapat berkumpul bersama.


Setelah dilakukan penyerahan hibah dari keluarga Bustanil Arifin ke Pemko, sebagaimana dipublikaskan Dinas Kominfo Padangpanjang, nama yang dulunya PDIKM berubah menjadi Museum Bustanil Arifin PDIKM Kota Padang Panjang.


Guna mempercantik kawasan ini, Pemko melakukan revitalisasi di antaranya di samping bangunan Museum PDIKM, juga sudah terdapat bangunan Balai nan Bapaneh yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni. Di halaman sekitar kawasan PDIKM, juga bisa dijumpai berbagai jenis tumbuhan dan bunga yang indah dan cantik.


Buat yang ingin mengabadikan momen, di sini juga terdapat spot-spot menarik dengan latar belakang Rumah Gadang ini. Di sekitaran taman juga disediakan tempat-tempat duduk bagi para pengunjung yang ingin beristirahat. Selain diteduhi pohon beringin yang berdiri kokoh, kawasan PDIKM juga dilengkapi gazebo, dan taman-taman yang indah.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad