TANAH DATAR, potretkita.net – Membangun infrastruktur itu penting, akan tetapi membangun Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih penting. Kebijakan yang sering berubah-ubah berdampak besar terhadap pembangunan.
“Kemajuan suatu daerah ditentukan dari Sumber Daya Manusianya (SDM), infrastruktur penting ,tapi SDM jauh lebih penting. Itulah yang harus kita perbaiki dengan tantangan yang sungguh luar biasa,“ kata Bupati Tanah Datar Eka Putra, Ahad (6/11), di Pagaruyuang.
Bupati mengatakan hal tu, pada Rapat Akbar Guru se-Kecamatan Tanjung Emas, dalam rangka persiapan Hari Ulang Tahun (HUT) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI.
Eka menyampaikan kekhawatirannya terkait pengaruh smart phone, dampak negatifnya terasa sangat besar. Generasi muda dan anak-anak kita, imbuhnya, sudah terpengaruh game online, anime film kartun, dan sejenisnya, yang terkadang belum dimengerti anak-anak, dan itu bisa mempengaruhi aqidah dan kecerdasan otak anak.
Pada rapat yang dihadiri 300-an guru itu, bupati juga menyampaikan kekhawatirannya tentang kebijakan pemerintah pusat yang sering berubah, dan mempengaruhi dunia pendidikan, tidak hanya kesulitan bagi anak didik namun juga bagi tenaga pendidik (guru).
“Kebijakan pemerintah pusat terkadang berubah hal itu menjadi kendala, dari itu saya minta masukan dan saran dari para guru melalu wadah PGRI ini dapat kita sampaikan ke pemerintah pusat, bahkan saya selaku bupati yang juga melalui wadah Apkasi juga bisa menyampaikan ke pusat,“ ujarnya.
Sebagaimana dikutip dari rilisan Bagian Prokopim Setda Tanah Datar yang diakses pada Senin (7/11) sore, bupati menegaskan dalam dunia pendidikan, peserta didik memang tidak salah melek teknologi atau tidak gagap teknologi atau gaptek, namun harus sesuai koridor dan program pendidikan tidak selalu berubah.
Kepala Dinas Pendidikan Riswandi pada kesempatan yang sama menyampaikan, saat ini di Tanah Datar masih kekurangan guru. Pada saat guru memasuki masa pensiun, gantinya tidak ada, itu juga menjadi kendala dalam dunia pendidikan.
Riswandi menyebut, ada upaya rekrutmen guru non ASN menjadi ASN, namun kebijakan nasional skemanya berubah menjagi P3K, dan pada tahun 2021 Tanah Datar mendapat formasi 1.009 dan sudah lulus.
“Sudah di-SK-kan sebanyak 80 di termen pertama dan 42 di termen kedua, setelah itu lulus sebanyak 230 melalui passing grade dan tinggal menunggu penempatan, sementara masih ada sisanya 667 yang akan diupayakan melalui observasi,” katanya.
Riswandi berharap, pada observasi di termen ketiga itu dapat berjalan dengan baik. Kepada kepala sekolah, ujarnya, diharapkan ada tim yang berkompeten, sehingga dapat mengakomodir tenaga guru yang masih tersisa sebanyak 667 tersebut. (*/mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar