JAKARTA, POTRETKITA.net -- Bayangkanlah! Apa yang hendak diperbuat, ketika anak Anda diisolasi karena terkonfirmasi positif Covid-19. Usianya masih di bawah lima tahun. Ada pula komorbid yang menyebabkan harus dirujuk ke rumah sakit.
![]() |
| Komisioner KPAI DR. Jasra Putra, M.Pd |
Itulah kini yang melanda berbagai kota di Indonesia, sejak libur agak panjang beberapa waktu lalu. Di Rumah Sakit Wisma Atlet Jakarta, antrian untuk bisa dirawat di sana saja sampai barisan 400-an orang. Petugas mencatat pendaftarannya hingga subuh.
Dalam video singkat di ruang registrasi RS Wisma Atlet, nampak bayi digendong. Ada juga anak bersama orang tuanya di pelataran rumah sakit karena menunggu antrian layanan.
''Artinya, kondisi rumah sakit saat ini sedang butuh dukungan sektor lainnya. Dalam memastikan ketersediaan layanan rujukan perlindungan anak sementara, ketika orang tua antri mendapatkan perawatan,'' ujar Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Jasra Putra, Jumat (18/6), melalui keterangan resminya secara virtual.
Sejak dibawa dan dirujuk karena terpapar Covid-19, ujarnya, orang tua belum menemukan layanan dukungan untuk anaknya, karena kekhawatiran ketika ditinggal. Untuk itu, imbuhnya, perlu layanan jemput bola, dalam mengkoneksikan layanan rumah sakit, keluarga dan anak.
Dikatakan, situasi ini juga menjadi keresahan keluarga Indonesia di tengah dimulainya kebijakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM )yang akan dibuka seluruhnya di bulan Juli 2021. Bahwa situasi pendampingan anak dalam belajar juga akan dihadapi keluarga yang tengah di rawat di RS.
IDAI juga mengingatkan, angka kematian anak yang meningkat 50 persen selama pandemi Covid-19. Tercatat 600 anak meninggal selama pandemi. Anak yang diperkirakan jauh dari pandemi, pada kenyataannya juga tertular.
FKUI RSCM juga mengingatkan kondisi anak-anak yang komorbid (penyakit penyerta) dan penyakit genetik yang berakibat meninggal dunia akibat Covid-19. Mutasi virus juga harus di waspadai, karena sangat dinamis. Untuk itu, sekolah dan orang tua perlu terus memantau dan memastikan pengembangan varian baru Covid-19, karena lebih mudah penularannya.
''KPAI dalam survey fasilitas kesehatan bertingkat pada 2020 di enam wilayah. Menyatakan fasilitas layanan kesehatan yang masih belum terkoneksi dalam mendukung layanan dewasa, orang tua dan anak dalam perawatan. Begitupun rujukan bagi keluarga yang membutuhkan pengasuhan alternatif anak ketika menjalani perawatan,'' ujarnya.
Meski sebelumnya, menurut Jasra, beberapa protokol kebijakan perlindungan anak di tengah pandemi telah dikeluarkan BNPB bersama kementerian, lembaga dan organisasi anak untuk menjangkau permasalahan keluarga. Hanya di tengah lonjakan Covid-19, efektifitas implementasi kebijakan ini, perlu jadi pengawasan bersama.
Begitu juga dalam survey KPAI tentang Layanan Kesehatan menemukan tantangan untuk petugas dalam layanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di masa pandemi, seperti memenuhi pelaksanaan imunisasi dan pencegahan stunting, yang merupakan agenda nasional dan amanat Presiden dalam mencegah generasi muda dan usia produktif terpapar penyakit berat tidak menular.
Artinya, kata dia, ini jadi rangkaian mencegah pandemi Covid-19 juga, karena tingginya angka kematian anak akibat Covid-19, juga disebabkan penyakit berat atau penyakit penyerta. Untuk itu, katanya, perlu kesadaran orang tua memeriksakan kesehatan anaknya sejak dini dan secara periodik, agar situasi buruk dapat di cegah.
Untuk mengurangi potensi penelantaran anak di rumah sakit, KPAI mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan rujukan penempatan anak, ketika orang tua menjalani perawatan. Memetakan kebutuhan layanan, apakah bisa di lakukan rumah sakit, keluarga atau membutuhkan pendamping.
Meski situasi tidak seperti Maret 2019 pertama kali Covid-19 datang ke Indonesia, karena relaksasi dan orang mulai terbiasa menghadapi pandemi, sehingga tidak sekaku dulu. Namun dengan adanya varian baru, dan perkiraan cepatnya penularan, tentu tingkat kewaspadaan dan kesiapan pemerintah daerah harus lebih tinggi.
Beberapa fasilitas rujukan anak perlu di tambah dalam antisipasi angka lonjakan penularan, seperti di video antrian RS Wisma Atlet. ''Ada kebutuhan di tengah orang tua mengantri sambil membawa anak dan mengendong anak. Memastikan akses kebutuhan anak, minimal ketersediaan dapur hangat, dapur nutrisi dan tempat istirahat sementara,'' katanya.
Begitu juga untuk memastikan anak-anak yang ditinggalkan orang tua tetap mendapatkan hak kesehatannya, agar tidak menjadi kluster baru di RS. Jika anak berkepanjangan bersama orang tua di perawatan, bagaimana hak pendidikan mereka, terutama di tengah ulangan, jelang kenaikan kelas dan pendaftaran masa ajaran baru.
Dukungan para pekerja anak, kementerian dan lembaga yang bekerja untuk anak, pekerja sosial menjadi kebutuhan dalam mendukung layanan kesehatan di tengah wabah pandemi varian baru.
Menurut Jasra, tentu situasi ini sangat memprihatinkan kita semua, ditengah relaksasi dan kebijakan fasilitas publik yang terus melonggarkan. Tentu hal yang ketat, kaku bahkan tabu, kini tidak lagi menjadi permasalahan di masyarakat.
''Mau tidak mau, pilihannya bagi pemerintah daerah dan Satgas Covid-19 adalah menegakkan protokol kesehatan dan memperbanyak pemeriksaan di ruang publik. Data 600 anak meninggal dunia selama pandemi menjadi alarm kita semua,'' tuturnya.
Kita berharap, imbuhnya, layanan kesehatan yang sedang berat ini, ditopang dari sektor yang lain, dalam pencegahan mengatasi fasilitas kesehatan kita yang hampir penuh, yang tentu ujungnya menumpuk menjadi dampak yang harus diterima anak, karena mereka tidak sekuat orang dewasa.
KPAI mendorong orang tua, sekolah dan masyarakat untuk memotivasi anak-anak melalui potensi yang dimilikinya, untuk menjadi agen pengurang dampak bencana Covid-19 varian baru ini.(mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar