Potret Rahmah Muda Sang Penakluk Dunia - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

18 Juni 2021

Potret Rahmah Muda Sang Penakluk Dunia

PADANG PANJANG, potretkita.net - Kota kecil itu bernama Padang Panjang. Udaranya sejuk. Diapit tiga gunung utama di Sumatera Barat: Gunung Singgalang, Gunung Marapi, dan Gunung Tandikek.


Fauziah Fauzan El-Muhammady usai berdialog dengan Kongres AS Keith Ellison

Ada juga gugusan perbukitan dari jajaran Bukit Barisan yang membelah Pulau Sumatera, memagari kota berjuluk Serambi Mekah tersebut. Sungguh, kota ini merupakan karunia Yang Maha Kuasa menjadi tempat paling pas untuk menuntut ilmu.


Padang Panjang merupakan kota otonom terkecil di Sumatera Barat. Hanya terdiri dari dua kecamatan dengan 16 kelurahan. Tapi dalam blantika keulamaan dan pendidikan Islam, Padang Panjang adalah kota tempat tumbuhnya pesantren-pesantren yang sudah amat dikenal di Indonesia dan mancanegara. Pusat-pusat pendidikan Islam yang didirikan ulama-ulama besar Nusantara pada abad 18 dan awal abad 19 itu, telah melahirkan banyak ulama, pendakwah, dan pendidik keislaman.


Abdul Malik Karim Amarullah alias Inyiak DR --ayah dari ulama besar Prof. Dr. Hamka—tercatat salah satu pilar utama dalam mendirikan pusat pendidikan dan mengembangkan ajaran Islam di dunia. Dia melakukan pendidikan Islam yang kemudian melahirkan sejumlah ulama dari Surau Jembatan Besi yang kini telah berubah menjadi Masjid Zuama’. Tak jauh dari situ, dia mendirikan pula lembaga pendidikan formal yang kemudian dikenal dengan Perguruan Thawalib Padang Panjang.


Salah seorang murid Inyiak DR yang amat dikenal adalah Syaikhah Rahmah El-Yunusiyyah. Rahmah adalah perempuan pertama di dunia yang memperoleh gelar syaikhah ‘honoris causa’ dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Rahmah diakui keulamaannya lantaran kehandalannya mengembangkan ilmu-ilmu keislaman dari Perguruan Diniyyah Puteri yang beliau dirikan pada 1 November 1923.


Sebelum mendirikan lembaga pendidikan khusus bagi anak-anak perempuan itu, Rahmah tercatat pula sebagai ‘teman sama belajar’ Hamka yang kemudian dikenal sebagai pimpinan pertama Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah (KMM) Kauman Padang Panjang yang didirikan 1936.


Perguruan Diniyyah Puteri yang didirikan Rahmah, kini telah berkembang menjadi lembaga pendidikan khusus anak perempuan. Lembaga pendidikan yang diasuh mencakup Raudhatul Athfal (RA) untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah Diniyyah Menengah Pertama (MTs-DMP), Madrasah Aliyah Kulliyatul Muallimat El-Islamiyah (MA-KMI), dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT).


Bersaman dengan berkembang pesatnya lembaga-lembaga pendidikan formal, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang juga disokong sejumlah unit usaha dan divisi otonom. Unit usahanya mencakup resto, mini market, penginapan, poliklinik, usaha bordir, fotokopi, koperasi, dan loundry.


Sedangkan divisi otonom meliputi Diniyyah Training Center (DTC), Diniyyah Information Technology Center (DITC), Diniyyah Research Center (DRC), Diniyyah Counceling Center (DCC), Diniyyah Tahfidzul Quran (DTQ), Diniyyah Enterprise (DE), Diniyyah Garment (DG), Diniyyah Quran Sunnah (DQS), Diniyyah Agro Wisata (DAW), Diniyyah English Center (DEC), dan Diniyyah Arabic Center (DAC).


Hj. Fauziah Fauzan El-Muhammady, SE., Akt., M.Si., merupakan nama utama yang menjadi sentral perkembangan Perguruan Diniyyah Puteri dalam tiga belas tahun belakangan. Diniyyah Puteri yang sempat redup beberapa tahun hingga 2003, kembali mengepakkan sayap. Kini, para santri dan alumni Perguruan Diniyyah Puteri sudah memiliki kiprah internasional yang luar biasa. Mereka tumbuh dengan filosofis ‘Menaklukkan Dunia, Meraih Surga’.


Apa yang kini telah berhasil dicapai, jelas tak bisa dilepaskan dari sosok cucu Rahmah El-Yunusiyyah itu. Kedalaman ilmunya, dedikasi, dan kerja kerasnya, tak perlu dipertanyakan lag. Fauziah sudah sepatutnya disebut sebagai ‘Syaikhah Rahmah Muda Penakluk Dunia.’


Siapa Fauziah?


Fauziah Fauzan El-Muhammady

Di kancah internasional, terutama dalam hal pengembangan pendidikan Islam berbasis pondok pesantren bernuansa modern, nama Fauziah Fauzan El-Muhammady sebenarnya sudah tak asing lagi. Dia kerap melakukan ‘diplomasi’ untuk kepentingan umat dan meluruskan persepsi barat tentang Islam, termasuk juga negara-negara maju di Asia.


Pemerintah dan perguruan-perguruan tinggi Eropa, Amerika, dan Australia, sudah tak terbilang lagi kalinya mengundang Fauziah menjadi narasumber pada beragam program, terutama menyangkut Islam, masyarakat Islam, konsep pergaulan Islam antarbangsa, dan model pendidikan Islam.


“Saya hanyalah manusia biasa. Tapi saya amat menyadari, setiap manusia harus melakukan apa saja yang terbaik agar bermanfaat bagi orang lain. Islam merupakan agama yang saya anut. Dengan demikian, saya tidak boleh berhenti mendalami Islam. Sebagai seorang muslim yang mendapat amanah di bidang pendidikan, saya bertanggungjawab terhadap masa depan agama ini. Di pundak generasi-generasi muda hasil didikan sayalah, masa depan Islam ditompangkan,” ujarnya suatu ketika.


Fauziah dilahirkan di Padang pada 5 Januari 1971. Dia adalah puteri kedua pasangan Prof. Dr. Fauzan (alm) dan Dra. Huda Hanum. Bila menapak jejak pendidikan formal yang dilalui, pendidikan berbasis Islam hanyalah Madrasah Tsanawiyah Diniyyah Menengah Pertama. Selebihnya? Tidak.


Secara akademis, Fauziah adalah seorang akuntan, ahli auditing dan pakar sistem informasi. Tapi kemudian, bersama Perguruan Diniyyah Puteri, dia tumbuh menjadi ulama perempuan yang patut diperhitungkan, seiring dengan kedalaman ilmunya tentang Islam, beserta kiprahnya mengkampanyekan Islam itu damai, penuh kasih sayang, dan menghargai manusia, ke tengah-tengah masyarakat barat yang cenderung melihat Islam dengan sebelah mata.


Atas upaya yang dilakukannya, Fauziah memperoleh banyak penghargaan nasional dan internasional. Penataan kembali (reengineering) Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang membawanya memperoleh Top Fifty Leader Indonesia kategori pendidikan.


Dia juga dinobatkan sebagai Srikandi Dua Negara Serumpun dari Pemerintahan Malaysia, Anugerah Citra Wanita Pembangunan Indonesia (2007), dan sebagainya, termasuk usaha yang dilakukan Fauziah, Rahmah El-Yunusiyyah menerima penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dari Presiden Republik Indonesia pada 13 Agustus 2013 silam.***

(Musriadi Musanif, bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad