Master Chef Indonesia dari Kampung di Pinggang Gunung Marapi - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

18 Juni 2021

Master Chef Indonesia dari Kampung di Pinggang Gunung Marapi

TANAH DATAR, POTRETKITA -- Negeri berjuluk Luak Nan Tuo itu menyimpan banyak orang-orang kreatif. Mereka berkarya di berbagai lini kehidupan. Ada yang berprestasi lokal, banyak pula yang menembus pentas nasional.

Wakil Bupati Richi Aprian bersama istri, mengapit keluarga sang master chef.

Begitu mendapat informasi tentang semangat kreatifitas insan-insan yang merupakan warganya, Wakil Bupati Tanah Datar Richi Aprian pun tak segan-segan mampir ke rumah mereka. Kerap juga, untuk memberi motivasi, wabup didampingi istri; Ny. Patty Aprian dan pejabat terkait.


Salah seorang pengusung semangat kreatifitas itu bernama Suhaidi Jamaan yang kini akrab disapa Pak Cik Adi. Dia berhasil menembus ajang prestasi nasional di bidang kuliner. Lelaki asal perkampungan di pinggang Gunung Marapi itu pun menghiasi layar kaca RCTI melalui program Master Chef Indonesia.


Ya, Pak Cik Adi adalah putra asli Kampung Guguak Tinggi di Jorong Guguak, Nagari Pariangan, terletak di pinggang Gunung Marapi yang menghadap ke Batusangkar, salah satu desa terindah Indonesia. Pekerjaannya sehari-hari adalah petani cabai. Dia berhasil menjawab tantangan para master berskala nasional dan internasional.


Wabup Richi saat berkunjung langsung ke kediaman keluarga Pak Cik Adi di Guguak Tinggi mengaku amat bangga, karena Pak Cik Adi telah berhasil melewati babak Galeri I Master Chef Indonesia dengan banyak tantangan, di antaranya mystery box, one-core ingredient, dan one-core ingredient pressure test.


Perjuangan Pak Cik Adi diharap dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Tanah Datar. Kendati tidak berasal dari ibukota, tegasnya, tetapi mampu berjuang dan meraih prestasi di ajang luar biasa itu. Prestasi tersebut, menurut Richi, diyakini juga akan mengharumkan nama Tanah Datar.


Selain mengucapkan selamat kepada keluarga dan mengajak mendoakan Pak Cik Adi menjadi yang terbaik, pada kesempatan itu, Wabup Richi juga mengucapkan terima kasih kepada segenap aktivis di Yayasan Sumatera Volunteer, karena turut membantu dan memfasilitasi Pak Cik Adi, sehingga bisa ikut audisi dan lolos ke ajang Master Chef Indonesia.


Sejak awal hingga kini, sebutnya, yayasan tersebut terus mendampingi Pak Cik Adi. Pengawalan mereka lakukan sejak dari audisi sampai kepada pengelolaan media sosial. ‘’Terima kasih kepada Yayasan Sumatera Volunteer yang telah banyak berkiprah untuk mengharumkan nama Tanah Datar,’’ kata wabup.


Mengingat Pak Cik Adi tidak berasal keluarga yang mampu dari sisi ekonomi, wabup pun mengajak pemerintahan nagari dan kecamatan untuk membantu. Sebagai tulang punggung keluarga, sebutnya, Pak Cik Adi harus meninggalkan usahanya di kampung halaman, untuk meraih prestasi besar itu di Jakarta dalam rentang waktu yang terbilang lama.


‘’Kita ingin Pak Cik Adi fokus mengejar prestasi itu. Tidak boleh terganggu oleh persoalan lain, terutama menyangkut ekonomi keluarga dan pekerjaannya sebagai petani. Mohon kepada pemerintah nagari dan camat untuk terus memantau kondisi keluarganya,’’ wabup menegaskan.


Sejak mengikuti audisi hingga saat ini, Pak Cik Adi sudah berkompetisi di Jakarta selama tiga bulan. Untuk menuntaskan perjuangan, dia masih membutuhkan banyak waktu dan tidak bisa pulang ke Guguak untuk berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.


Terkait keunggulan kompetitif yang dimiliki Pak Cik Adi, Ny. Patty yang juga merupakan alumni Master Chef Indonesia menyebut, kekuatannya ada pada konsep masakan tradisional. Bagi kebanyakan Master Chef Indonesia, ujarnya, mengarah kepada konsep western.


‘’Karakter Pak Cik Adi itu adalah masakan tradisional. Kita berharap dia tetap konsisten dengan konsep tersebut yang diselingi dengan inovasi,’’ ujarnya di hadapan Istri Pak Cik Adi; Neli Sofia, Kepala Dinas Parpora Abdul Hakim, Camat Pariangan Abdurrahman Hadi, dan jajaran Pemerintahan Nagari Pariangan.(Musriadi Musanif) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad