![]() |
| DR. Daryono (katadata.id) |
Tapi dalam sepekan ini, ada peristiwa yang memang tak biasa dan tidak lumrah. Tiga kali gempa bumi mengguncang daerah itu.
‘’Dalam seminggu ini, di wilayah Jambi terjadi gempa sebanyak tiga kali, meski magnitudonya di bawah 5, tetapi ini menarik perhatian terkait aktifitas sesar aktif. Sementara Jambi kita kenal sebagai zona seismisitas rendah,’’ ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami pada Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) DR. Daryono, Jumat (18/6).
Daryono menginformasikan hal itu melalui akun twitter-nya, menanggapi tiga gelombang gempa yang melanda pedalaman Sumatera tersebut, meliputi gempa Magnitudo 4,3 pada 14 Juni 2021 pukul 18.46 WIB, kedalaman 2 kilometer, berpusat di darat 36 kilomerer tenggara Merangin.
Magnitudo 3,8 pada 15 Juni 2021 pukul 18.20 WIB, kedalaman 10 kilometer, berpusat di 20 kilometer tenggara Batanghari; dan magnitudo 5,2 pada 16 Juni 2021 pukul 21.16 WIB yang disebut juga terasa hingga Provinsi Jambi, tetapi pusatnya di Bengkulu.
Bagi warga yang bermukim di Sumatera, terutama di belahan barat, gempa bumi memang sudah kerap dirasakan, baik yang berpusat di darat maupun laut. Namun tidak perlu ditakuti, karena fakta menunjukkan, gempa bukan penyebab kematian dan cedera terbanyak, tetapi merupakan kasus ikutan setelah peristiwanya.
‘’Wilayah Indonesia kan tempat bertemunya tiga lempeng utama dunia. Kita tak bisa mengelak dari gempa. Ada 13 megatrust dan 295 sesar aktif. Itu yang sudah teridentifikasi. Yang belum, banyak,’’ katanya dalam suatu wawancara yang disiarkan situs berita lokadata.id beberapa waktu lalu.
Sepanjang tahun 2020 saja, di Indonesia terjadi 8.264 kali gempa bumi, sementara pada 2019 terjadi 11.515 kali. Tidak menutup kemungkinan, jumlahnya akan tetap tinggi pada 2021 ini yang ditandai dengan terjadinya beberapa gempa yang berpusat di titik yang tak lumrah; misalnya sekitar Bukittinggi, Agam, dan Pasaman, plus peristiwa terbaru di Merangin dan Batanghari, Provinsi Jambi.(mus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar