TANAH DATAR, POTRETKITA -- Menjadi walinagari dan mengurus desa, mungkin takkan pernah terbayang oleh seorang akademisi. Sebab, dengan gelar akademik sebagai wujud kompetensi keilmuan yang didapat dari perguruan tinggi itu, seseorang akan 'malu' menjadi kepala desa.
![]() |
| Dr. Asrizallis Zein, S.Sos., M.Pd.I., MM., MH., M.Sn.,M.Si. |
Kepala desa? Ya! Di Provinsi Sumatera Barat namanya walinagari. Sepanjang hari, walinagari itu berkutat di dua kutub magnet kuat yang saling tarik-menarik. Di satu sisi adalah kepentingan masyarakat yang dia pimpin, di sisi lain kepentingan pemerintahan di atasnya, mulai dari tingkat kecamatan, sampai kepada kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat.
Dia juga harus mampu mengakomodir dengan tepat kepentingan pihak lain, di luar rakyatnya, di luar pemerintah yang menjadi atasannya. Misal, kepentingan investor, organisasi sosial kemasyarakatan, komunitas, dan paguyuban perantau.
''Enjoy se wak bang (bahagia dan senang saja kita bang). Tugas dan amanah tentu harus dijalankan dengan baik. Ini sudah jadi karakter saya sejak dulu. Abang kan lah tau (abang kan sudah tahu),'' ujar Walinagari Cubadak, Kecamatan Lima Kaum, Asrizallis suatu ketika, membuka pembicaraan.
Banyak yang bertanya-tanya, memang. Kenapa seorang Asrizallis dengan gelar akademik terbanyak, mau jadi walinagari di kampung halamannya. Data terakhir, sedikitnya ada lima gelar akademik magister (S.2) yang disandangnya. Dia juga sedang mempersiapkan diri untuk menyandang gelar akademik doktor (S.3).
Gelar akademik di tingkat magister yang diraihnya adalah Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I), Magister Manajemen (MM), Magister Hukum (MH), Magister Seni (M.Sn), dan Magister Sains (M.Si), dan satu gelar akademik sarjana (S.1) Sarjana Sosial (S.Sos). Bila ditulis lengkap, maka nama sang walinagari akan terlihat: Dr. Asrizallis Zein, S.Sos., M.Pd.I., MM., MH., M.Sn.,M.Si.
''Menuntut ilmu itu memang tiada ada batasnya. Kalau kita berusaha mencari ilmu melalui jenjang perguruan tinggi, maka konsekuensinya adalah diberi gelar akademik. Bagi saya bukan gelarnya yang utama, tetapi kompetensi keilmuannya sebagai bekal menjalani kehidupan ini, menuju kebahagiaan di dunia kelak,'' katanya pada lain waktu.
Asrizallis memang profil unik. Selain gemar menuntut ilmu, dia juga aktivis berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Sejak dulu. Berbagai jenis profesi dan pekerjaan pernah dilakoni.
Lelaki kelahiran Supanjang, Nagari Cubadak, 10 Februari 1971 itu mengawali pekerjaan sebagai guru Taman Pendidikan Alquran (TPQ), lalu menjadi karyawan di Balai Kota Padang Panjang. Dia juga pernah jadi Satpam, pelaksana proyek, tenaga kerja migran di luar negeri, guru honor, dan dosen.
Asrizallis lama tinggal di Kelurahan Tanah Pak Lambiak, Kota Padang Panjang, ketika menjadi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) tahun 2009-2013. Semasa itu, dia juga dipercaya memimpin masyarakatnya. Asrizallis dipercaya menjadi ketua RT 02 Tanah Paklambiak pada 2012-2017 dan kepala Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Al-Fath di kelurahan yang sama.
Sementara memimpin Nagari Cubadak dipercayakan kepadanya sejak 2017 dan akan berakhir pada 2023 nanti.
Kalau bicara aktivitas melalui organisasi sosial kemasyarakatan, jangan pula disebut lagi. Asrizallis sedikitnya telah dipercaya memimpin 78 organisasi dengan berbagai jenis jabatan, dan puluhan jenis penghargaan.
Asrizallis memang pribadi unik dalam arti luas. Tapi percayalah, banyak hal yang bisa diteladani dari dirinya, terutama dalam hal ketekunannya menggali ilmu, kegigihan berkegiatan, ketaatan beragama, dan kesungguhan menggali kreativitas untuk memajukan nagari yang dicintainya. Cubadak.(MUSRIADI MUSANIF)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar