PADANG PANJANG, potretkita.net - Perguruan Diniyyah Puteri genap berusia 99 tahun. Pada 1 November 2023 nanti, satu abad sudah perjalanan lembaga pendidikan ini mencerdaskan anak bangsa, sekaligus menegakkan harkat dan martabat umat Islam.
Menyemarakkan
sekaligus mensyukuri atas perjalanan 99 tahun, lembaga pendidikan khusus puteri
yang berbasis di Kelurahan Pasar Usang, Nagari Bukitsurungan, Kota Padang
Panjang itu, menyelenggarakan berbagai kegiatan.
Ada
lomba-lomba internal, pawai keliling kota pendidikan berjuluk Serambi Mekah,
pertemuan alumni, resepsi internal, syukuran milad, pemberian penghargaan
kepada karyawan berprestasi, dan konser asmaul husna.
Konser
sebagai puncak kegiatan syukuran, Sabtu (5/11) malam adalah penampilan
kolaborasi santri dengan para musisi islami Tanah Air, termasuk lelang Lukisan
Asmaul Husna karya Ustad Derry Sulaiman, yang dilukis secara live selama konser
berlangung.
Pada
kegiatan resepsi yang berlangsung pada Sabtu (5/11), pagi hingga siang,
Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang Fauziah Fauzan El-Muhammady,
SE, Akt, M.Si, mengekspos perjalanan panjang lembaga pendidikan yang didirikan
Rahmah El-Yunusiyyah pada 1 November 1923; sejak dari perjuangan merebut
kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan.
Hadir
pada kesempatan itu Anggota DPR RI H. Guspardi Gaus, Gubernur Sumatera Barat
Buya H. Mahyeldi Ansharullah, Kepala Kanwil Kementerian Agama Dr. Helmi yang
diwakili Dr. Muslimah, Walikota Padang Panjang H. Fadly Amran Dt. Paduko
Malano, dan sejumlah pejabat daerah beserta pemuka masyarakat Sumatera Barat.
![]() |
| Gubernur Mahyeldi saat memberi sambutan |
Penyair
berkelas internasional Taufiq Ismail yang merupakan putra alumni pertama
Diniyyah Puteri, juga hadir pada kesempatan itu, sekaligus membacakan
puisi-puisinya yang abadi sepanjang masa. Mewakili Duta Besar Mesir untuk
Indonesia; Dr. Ali Abdurrahman juga turut hadir, Ketua Yayasan Rahmah El-Yunusiyyah
Prof. Nadirman Haska, Tokoh Ulama Sumbar Buya H. Mas’oed Abidin, dan banyak
undangan lainnya.
Gubernur
Mahyeldi dalam sambutannya mengatakan, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang
tidak hanya melahirkan pendidik dan perempuan terdidik, tetapi juga banyak
perempuan pengusaha, perempuan politisi, dan perempuan pejuang lainnya. Mereka
itu, sebut buya, berjuang dengan sepenuh hati untuk memajukan negeri ini.
“Para
tokoh, pejuang, pengusaha, dan pendidik perempuan yang berkiprah saat ini
adalah hasil didikan Perguruan Diniyyah Puteri pada masa lalu. Pengabdian dan
kedermawanan mereka sangat luar biasa. Lalu bagaimana dengan masa yang akan
datang? Ini yang harus kita pikirkan juga bersama-sama,” sebut Mahyeldi.
Gubernur
pun berharap, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang terus berinovasi dan
meningkatkan kiprahnya, sehingga dapat melahirkan tokoh-tokoh perempuan di masa
mendatang, sebagaimana perempuan-perempuan yang sudah dididik di masa lalu yang
saat ini sedang berkiprah.
Buya
Mahyeldi menjelaskan, dalam usaha pengembangan pendidikan di Sumatera Barat,
Pemprov menjadikan Diniyyah Puteri sebagai referensi. Harapannya, program
pendidikan jadi teruji dan mampu menghasilkan insan-insan terbaik untuk agama,
bangsa, dan umat manusia.
Kiprah
luar biasa Diniyyah Puteri untuk bangsa, tidak hanya diutarakan Gubernur
Mahyeldi, tetapi juga disebut Guspardi saat memberi kata sambutan. Bahkan
Guspardi menekankan, negara dan pemerintah berutang kepada Perguruan Diniyyah
Puteri, karena kiprahnya yang tak terhitung sejak berdiri hingga sekarang untuk
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Banyak
persembahan Diniyyah untuk kepentingan bangsa, perjuangan yang sangat luar
biasa. Rahmah El-Yunusiyyah mendirikan sekolah di usia muda, dan saat bangsa
ini masih dijajah Belanda. Hari Santri Nasional adalah hadiah untuk Diniyyah Puteri
yang santrinya sangat bertalenta,” sebut Guspardi.
Walikota
Fadly juga mengapresiasi kiprah 99 Tahun Perguruan Diniyyah Puteri. Apalagi,
sebutnya, lembaga pendidikan ini telah mengharumkan nama Kota Padang Panjang ke
kancah dunia, khususnya dalam hal pengembangan pendidikan Islam.
“Apresiasi
kami atas komitmen Diniyyah Puteri selama 99 tahun. Visi dan misi kemanusiaan yang
dijalankan amat penting. Ini patut dicontoh. Diniyyah Puteri telah memiliki
kontribusi nyata dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan,”
ujarnya.
Fadly
juga mengingatkan, seiring dengan semakin ketatnya kompetisi global, maka
Perguruan Diniyyah Puteri harus siap bersaing dengan masyarakat dunia, tidak
sesama warga Indonesia saja.
Kiprah internasional Perguruan Diniyyah Puteri, sebagaimana yang diharapkan Walikota Fadly, di bawah kepemimpinan Fauziah terus ditingkatkan. Kini, puluhan kerjasama dengan berbagai universitas di dunia telah dilakukan, sejak dari Australia hingga Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Finlandia, Mesir, Maroko, Amerika Serikat, dan belasan negara lainnya di lima benua.
![]() |
| Para tamu kehormatan menjelang memasuki ruangan resepsi. |
Ali
dari Kedubes Mesir untuk Indonesia pun mengakuinya. “Sejak dulu hingga kini,
kerjasama Diniyyah Puteri dengan Mesir, khususnya Universitas Al-Azhar terus
berjalan. Pendiri Diniyyah Puteri; Rahmah El-Yunusiyyah adalah syaikhah
perempuan pertama dari Al-Azhar.
Bagi
Kepala Kanwil Kementerian Agama Helmi, posisi Diniyyah Puteri sangat benting
dalam pengembangan lembaga pendidikan berbasis pondok pesantren. Kiprah lembaga
pendidikan ini, ujarnya, telah menjadi rujukan penting dalam pengembangan
madrasah dan pesantren di Indonesia.
“Mengapresiasi
kiprah Diniyyah Puteri dan perjuangan Rahmah El-Yunusiyyah yang menjadi
inspirasi alumni. Ada nilai dakwah dan sosial masyarakat yang terus dirawat. Diniyyah
Puteri masih terdepan dalam kreativitas pendidikan, rule model bagi ponpes.
Untuk itu, teruslah berkomitmen memperkuat jati diri, sekaligus senantiasa
bekerja mewujudkan visi misi Diniyyah. Raihlah prestasi yang akan menghebohkan
dunia,” ucapnya.
Fauziah
dalam eksposenya menyatakan, Diniyyah Puteri tetap berkomitmen untuk
menciptakan tenaga pendidik, teknokrat, politisi, pengusaha, dan ilmuwan
perempuan tanpa melakukan dikotomi terhadap ilmu pengetahuan.
Untuk
mewujudkan impian besar itu, ujarnya, Diniyyah Puteri telah melakukan berbagai
inovasi dan kerja keras, di antaranya dengan menerapkan QUBA Curriculum di
semua lembaga pendidikan yang diasuh, sejak dari Pendidikan Anak Usia Dini
(PAUD) hingga perguruan tinggi.
QUBA
Curriculum adalah kurikulum berbasis Quran, Sunnah, Qalbu, Brain, dan Attitude.
Fasilitas pendukungnya adalah divisi-divisi otonom, studi komparatif yang sudah mencapai 28
negara, 48 jenis program ekskul, dan sarana pendidikan yang cukup.
Menurutnya,
Rahmah yang mendirikan Diniyyah Puteri ketika masih berusia 23 tahun,
memiliki komitmen kuat dan berkontribusi besar untuk kejayaan bangsa ini, sejak
dari masa penjajahan sampai kepada perjuangan mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan.
‘’Kiprahnya nyata dalam perjuangan
kemerdekaan, mengajarkan toleransi, mendukung Sumpah Pemuda 1928, mendirikan
dan memimpin Batalyon Merapi, orang yang pertama mengibarkan bendera Merah
Putih di Kota Padang Panjang, doktor pertama dari Universitas
Al-Azhar Kairo, inisiator wanita kuliah di Al-Azhar, dan
sebagainya,’’ kata Fauziah.
Upaya yang dilakukan Fauziah dalam memajukan Diniyyah Puteri dan
mewujudkan cita-cita Rahmah, mendapat dukungan dari Ketua Yayasan Rahmah
El-Yunusiyyah Prof. Dr. Nadirman Haska.
‘’Diniyyah Puteri konsisten mendidik
calon pendidik tangguh. Program pendidikan kita sudah jelas arah dan tujuannya.
Kendati saat ini pesantren bertumbuhan, tapi tetap saja tidak menyamai konsep
pendidikan yang dianut Diniyyah Puteri, sesuai cita-cita besar Rahmah
El-Yunusiyyah,’’ katanya.(MUSRIADI MUSANIF, wartawan utama)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar