POTRET KITA – BAGHONGGIANG dalam Bahasa Minang ala Pasaman Barat; terutama di Talu, Kajai, Simpang Ampek, Sukomananti, Kinali, Kapa, dan Aia Gadang, merupakan tradisi berkesenian yang sudah berkembang lama. Tidak ada informasi pasti, sejak kapan kesenian itu menjadi bagian tak terlepaskan dari kehidupan warga.
Pertunjukan ronggeng, unik dan khas dari Pasaman Barat. (gpswisataindonesia.indo)
Tiga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang pernah melakukan penelitian tentang ronggeng di Pasaman Barat. Mereka adalah Martarosa, Imal Yakin, dan Kurniawan Fernando. Temuan mereka di lapangan, kesenin Ronggeng Pasaman tak bisa lepas dari interaksi secara multikultural musik barat (Portugis dan Belanda) dengan musik timur (Arab, India, Melayu, Minangkabau, Mandailing, dan Jawa imigran).
Menurutnya, Ronggeng Pasaman merupakan seni pertunjukan yang terdiri dari pantun, tari atau joget, dan diiringi musik. Bentuk pertunjukan Ronggeng Pasaman yaitu menggabungkan keahlian berpantun sambil menari dan diiringi musik biola dan dua unit gendang.
Ronggeng Pasaman biasanya dipertunjukkan pada malam hari, dimulai pada pukul sepuluh malam hingga menjelang subuh sekitar pukul lima pagi. Tempat pertunjukannya di lapangan terbuka atau di pentas yang dibuat khusus dan dipertunjukkan dalam perhelatan perkawinan, perayaan hari kemerdekaan Indonesia, dan peringatan keagamaan Islam, seperti hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Pertunjukan ronggeng, unik dan khas dari Pasaman Barat. (gpswisataindonesia.indo)
Menurut tim peneliti dosen-dosen ISI Padang Panjang itu, pantun dalam pertunjukan Ronggeng Pasaman didendangkan atau dinyanyikan oleh seorang lelaki berpenampilan wanita yang disebut dengan Anak Ghonggiang atau Anak Ronggeng.
Anak Ronggeng adalah laki-laki yang didandani seperti perempuan (transvesti) dan memakai baju kurung. Jenis pantun yang dibawakan adalah pantun muda-mudi dinyanyikan mengikuti irama lagu, seperti lagu Cerai kasih, Kaparinyo, Buah Sempaya, Tari Payung, Mainang, Alah Sayang, Sinambang dan Si Kambang Baruih.
Pantun-pantun yang didendangkan itu bersifat bebas dan lepas, tidak membentuk suatu kesatuan cerita. Pemain musik dalam pertunjukan Ronggeng Pasaman terdiri dari lima orang yaitu, satu orang menggesek biola, dua orang memukul gendang, satu orang memukul tamborin, dan satu orang memukul botol untuk menjaga tempo. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar