Ke Barus Kita Berwisata dan Ziarah dalam Satu Paket - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

18 Juni 2021

Ke Barus Kita Berwisata dan Ziarah dalam Satu Paket

PARIAMAN, POTRETKITA – Berwisata dan ziarah dikemas dalam satu paket, bisa? Inilah menariknya bila Anda mengunjungi Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, sebuah kota tua yang berbatasan langsung dengan Singkil, Provinsi Naggroe Aceh Darussalam (NAD).

Jamaah sedang berziarah di Makam Papan Tinggi.

Bagi masyarakat Padang, Pariaman, Pasaman Barat, Agam, Padang Panjang, dan Kabupaten Tanah Datar, jarak tempuh menuju Barus tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar 15 jam untuk menembus jarak sekitar 500-an kilometer itu. Sudah sejak lama, umat Islam dari daerah-daerah tersebut berziarah ke Barus.


Dahulu, berkunjung ke Barus memang dikemas sekadar berziarah. Itu pun terbatas hanya ke Makam Papan Tinggi, tempat di mana Tuan Syekh Mahmud dimakamkan. Kini? Dengan akses sarana transportasi yang semakin baik, Anda bisa juga berziarah ke ratusan makam ulama pembawa Islam ke pulau-pulau Nusantara pada abad ke-6 dan ke-7 masehi, atau pada abad-abad pertama penanggalan hijriyah.


Ada juga Makam Tuan Syech Machdum dan Komplek Pemakaman Mahligai. Ada ratusan makam ulama dan pengikut Tuan Syech Machmud di kedua komplek pemakaman tua tersebut.


Usai ziarah, saatnya Anda memanjakan mata. Pantai-pantai indah di sekitar Barus pantang untuk tidak dikunjungi. Di salah satu titik pantainya, terdapat sebuah tugu berbentuk bola dunia yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo dua tahun lalu. Tugu itu diberi sebutan Tugu Kilometer Nol Peradaban Islam Masuk Nusantara.


Berbentuk sebuah globe dengan satu titik bertuliskan: BARUS. Tugu ini menjadi bukti, memang benar Islam pertama kali masuk ke Nusantara adalah melalui Barus, yakni pada masa Khalifah Umar Bin Khattab abad ke-7 masehi. Jauh lebih dahulu dari Walisongo berkiprah di Tanah Jawa pada abad ke-14.


Di Kota Barus, terdapat pula sebuah jembatan yang diberi nama JEMBATAN HAMZAH AL-FANSHURI, sepanjang 100 meter dengan lebar 10 meter. Jembatan indah bila dilihat dari Komplek Makam Papan Tinggi tersebut sangat fenomenal, dan memang diharapkan akan menjadi ikon baru pariwisata Barus. Jembatan itu menghubungkan Kecamatan Barus dengan Kecamatan Andam Dewi.


Kenapa Hamzah Al-Fansuri? Beliau adalah kebanggaan masyarakat Barus dan Indonesia. Al-Fansuri adalah penyair pertama di bumi Melayu yang amat terkenal. Dia Pujangga Melayu terbesar abad ke-17, penyair sufi yang tiada taranya. Dia juga yang mengangkat Bahasa Melayu sehingga menjadi bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antarbangsa yang dalam kajian keilmuan dinamakan lingua-franca.


Untuk mengenang kebesaran Al-Fansuri itu pulalah, namanya dilekatkan menjadi nama jembatan indah tersebut.

Jembatan Hamzah Al-Fanshuri membentang indah di Kota Barus

 Ziarah dan berwisata dalam satu paket, Anda tak perlu repot-repot. Satu grup cukup maksimal enam orang. Anda akan kami jemput ke satu titik kumpul di kota-kota Padang, Padang Pariaman, Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Tanah Datar, dan kota kabupaten lainnya, sesuai negosiasi dengan tim kami.


Satu grup berada dalam satu mobil minibus Avanza atau sejenis. Tapi kalau jumlah anggota jemaah melebihi dua grup, kita bisa bersama-sama berangkat menggunakan minus jenis Elf atau medium bus. Untuk saat ini, kondisi daerah-daerah yang dilewati masih banyak berstatus zona orange dan zona kuning penularan Covid-19, Anda memang tidak disarankan berangkat dengan rombongan besar. Cukup satu grup dengan enam orang saja!


Perlu juga diketahui, hingga saat ini, Kota Barus masih tetap Zona Hijau, kecamatan yang selalu terpantau aman dari penularan Virus Corona di Kabupaten Tapanuli Tengah.


Soal akomodasi dan konsumsi bagaimana? Di Barus memang tidak ada hotel mewah. Tapi Anda bisa difasilitasi untuk menginap di tempat penginapan, mess, atau hotel dengan standar fasilitas setara hotel berbintang satu. Biaya yang akan Anda keluarkan, sudah masuk ke dalam satu paket perjalanan yang kami kemas.


Sedangkan untuk urusan makan yang bagi ‘Orang Padang’ sangat sensitif bila melakukan perjalanan ke Sumatra Utara, bersama tim kami, itu tidak akan menjadi masalah. Kuliner dengan cita rasa unik, baik, dan halal akan bisa dinikmati selama dalam perjalanan. Makan siang, misalnya. Beragam olahan ikan air tawar dengan bumbu-bumbu khas Mandailing Natal (Madina) bisa Anda nikmati di Panyabungan, didampingi dengan seporsi Kopi Takar yang unik dan fenomenal pula.

Tugu Nol Kilometer Islam Masuk ke Pulau-pulau Nusantara di Barus

Makan malam bisa dinikmati di Kota Sibolga atau di Desa Tapian Nauli. Kalau pilihan jatuh ke Sibolga, maka menu yang bisa dinikmati adalah berbagai menu berbahan utama ikan laut hasil tangkapan nelayan di Samudra Indonesia yang luas. Juru masak dan pengelolanya adalah warga asli Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat.


Tapi pilihan bisa berubah, bila Anda ingin menikmati cita rasa yang tidak biasa. Makan malam kita di Desa Tapian Nauli. Di situ ada kuliner asik berbahan dasar ikan juga. Ada pula menu-menu seafood lainnya. Cuma saja, rempah-rempah yang digunakan adalah khas tanah Batak, yang bikin sensasi nikmat luar biasa di lidah ketika mencicipinya. Sebutlah misalnya bawang batak, sambuang, kincuang, dan lain-lain.


Selama di Barus, Anda juga dijamin akan mendapatkan kuliner-kuliner halal berbahan dasar ikan laut, didampingi nikmatnya racikan kopi khas Tanah Barus.


Waktu tiga hari yang terpakai untuk ziarah dan berwisata di sini tidak akan cukup, bila Anda ingin menikmati semua pesona Barus dan Tapanuli Tengah, plus Singkil di Aceh yang juga merupakan titik pendaratan pembawa Islam pertama ke nusantara.


Ada tim yang bisa dihubungi untuk berkonsultasi, membuat perencanaan perjalanan, memfasilitasi, dan memandu Anda menuju ke Barus. Cobalah hubungi email musriadi@rangtalu.net atau menggunakan chatting pada aplikasi whatsapp di nomor 081363119119. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad