Dengan Bersarung,Mantan Menteri itu Datang untuk Divaksin - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

17 Juni 2021

Dengan Bersarung,Mantan Menteri itu Datang untuk Divaksin

POTRET KITA, JAKARTA – Seorang lelaki datang ke kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Rabu (2/6), awal bulan ini. Saat itu, di Aula KH Ahmad Dahlan sedang berlangsung vaksinasi Covid-19. Massal. Diikuti  insan dari berbagai latar belakang dan profesi.

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menjalani vaksinasi.(ist)


Hari masih pagi ketika sang lelaki bersarung memasuki ruangan. Antrian memang belum terlalu panjang, kendati pada siangnya, setelah kegiatan selesai, tercatat ada 400 orang yang menjalani vaksinasi pada hari itu.

Siapakah dia? Setelah dicek nama-nama yang tertera pada laman pendaftaran yang ditangani petugas, ternyata dia adalah seorang tokoh nasional. Namanya Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI periode 2014-2019. Lukman? Bukankah dia juga merupakan seorang kader dan tokoh Nahdhatul Ulama?

Latar belakang keanggotaan di organisasi kemasyarakatan (ormas), ternyata bukanlah penghalang untuk saling mendukung dan menguatkan, sebagai usaha bersama memutus rantai penularan Covid-19 dan mempercepat pandemi ini berlalu.

 ‘’Alhamdulillah, saya bersama istri sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dosis kedua, insya Allah pada 25 Agustus mendatang. Saya sangat terkesan dengan tenaga kesehatan Muhammadiyah yang ramah, cepat, dan informatif,’’ ujarnya sebagaimana dikutip dan disiarkan melalui situs resmi Persyarikatan Muhammadiyah.

Lukman mengatakan, ketika dia datang bersama istri, antrian masih belum terlalu panjang. Awalnya, dia diminta mengisi formulir. Tak lama kemudian, ujarnya, dia bersama istri pun dipanggil ke ruangan vaksinasi. Setelah itu, tokoh nasional itu menjalani observasi selama 15 menit.

‘’Selesai. Cepat sekali layanannya. Mereka nampak sudah trampil. Alhamdulillah, selama observasi, saya dan istri tidak merasakan ada keluhan,’’ komentar Lukman yang menggunakan sarung berwarna cornsilk.

Menurutnya, masyarakat memang tak perlu takut divaksin, karena hal itu merupakan sesuatu yang penting di era pandemi Covid-19 ini. Kita bersyukur, sebutnya, negara yang didukung ormas seperti Muhammadiyah dan NU, turun langsung memberikan pelayanan terbaik, agar kesehatan masyarakat terjaga dan terpelihara dengan baik.

‘’Jadi vaksinasi bukanlah hal buruk dan harus ditakuti. Kita hilangkan prasangka negatif. Kita harus hilangkan itu, karena agama mengajarkan, kita dituntut menjaga, berikhtiar semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan. Vaksinasi adalah salah satu bentuk dari upaya atau ikhtiar tersebut,’’ katanya.

Kepercayaan pemerintah kepada Muhammadiyah dalam melaksanakan vaksinasi Covid-19 memang terbilang tinggi. Selain di Jakarta, Solo, Malang, dan Yogyakarta, kejutan atas kepercayaan itu juga berdatangan dari hampir seluruh provinsi di Indonesia, termasuk dari Medan.

Di kota terbesar di Pulau Sumatra itu, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara memberi kepercayaan kepada Rumah Sakit Muhammadiyah untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi keluarga besar Kejaksaan Tinggi Sumut.

Di sejumlah kabupaten dan kota di Indonesia, Muhammadiyah berhasil memberi suntikan vaksin untuk ribuan warga. Ada ratusan rumah sakit milik Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan tenaga kesehatan terampil yang disiapkan untuk itu. Begitu pula dengan perguruan tinggi Muhammadiyah yang memiliki spesialisasi keilmuan bidang kedokteran dan kesehatan.

Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Agus Samsudin, saat berbicara pada Covid Talk yang diselenggarakan secara virtual akhir pekan kemarin mengatakan, pihaknya sudah memvaksin lebih dari 68 ribu warga Indonesia. Mereka berasal dari berbagai latar belakang profesi, kepercayaan keagamaan, dan unsur masyarakat lainnya.

Muhammadiyah, tegasnya, mendukung dan berupaya memberikan vaksin Covid-19 kepada masyarakat Indonesia dengan cepat, agar pandemi cepat pula berlalu. Ada 115 rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang dilibatkan secara aktif untuk melaksanakan vaksinasi itu.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir menegaskan, vaksinasi bagi Muhammadiyah merupakan usaha penting. ‘’Ini adalah ikhtiar kita sebagai manusia yang berdasarkan ilmu pengetahuan, dijamin sebagai usaha untuk mengatasi wabah Covid-19. Kita berharap, vaksinasi dengan cepat dapat menjangkau seluruh masyarakat Indonesia,’’ ujarnya.

Haedar menegaskan, Agama Islam mengajarkan agar manusia selalu berusaha, setelah itu baru bertawakkal. Vaksinasi ini, tegasnya, merupakan ikhtiar kolektif seluruh bangsa Indonesia untuk mengatasi wabah Covid-19.

Kepala Sub Direktorat Imunisasi pada Kementerian Kesehatan RI Asik Surya mengatakan, vaksinasi memang membutuhkan sinergi yang kuat antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah, sebutnya, menyiapkan test, treat, trace (3T), sementara masyarakat harus disiplin dengan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak (3M).

‘’Usaha kita akan berbiaya tinggi ketika masyarakat lalai dengan 3M, maka 3T akan jebol bukan sekadar biaya, tetapi juga dengan resiko bagi lanjut usia dan mereka dengan penyandang komorbid akan berguguran,’’ kata Surya.

Terkait Vaksin Astrazeneca yang kini banyak digunakan di Indonesia, Surya menjelaskan, vaksin itu sudah mendapatkan Emergency Use Listing aman dan efektif dari WHO. Tapi interval waktu pemberian dosis pertama dan kedua memang terbilang lama bila dibanding sinovac, yakni mencapai 12 minggu.

Menurutnya, Astrazeneca manfaatnya lebih besar dari resikonya. Untuk itu, sebutnya, setelah lolos uji mutu dan keamanannya serta lolos dari Badan POM, maka vaksin itu tidak ada masalah untuk digunakan.

‘’Hingga kini sudah jutaan dosis Vaksin Astrazeneca yang digunakan, terutama untuk petugas publik, lanjut usia, dan SDM kesehatan,’’ jelasnya. (Musriadi Musanif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad