Batahan Dulu, Kini, dan Esok (2) - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

07 Mei 2022

Batahan Dulu, Kini, dan Esok (2)

BAGIAN KEDUA DARI DUA TULISAN

Oleh Dr. Suhardin, S Ag., M Pd.

(Dosen Universitas Ibnu Chaldun Jakarta)


LAUT yang dahulu telah memberikan kejayaan ekonomi Batahan, sekarang sudah tinggal ampas, jangankan untuk di jual menjadi sumber pendapatan daerah, menutupi kebutuhan ikan di tingkat masyarakat Batahan saja tidak tercover lagi. Banyak juragan bagan melaut hanya membuang solar sebagai bahan bakar.

Aktivitas di pelabuhan kuala Batahan.



Akibat masyarakat kurang tegas terhadap trowl motor mini yang beroperasi terus menerus di Batahan dan Natal di wilayah hukum Kabupaten Mandailing Natal. Berbeda dengan di Air Bangis Kabupaten Pasaman Barat, pemerintah dan masyarakat saling bahu membahu untuk menindak tegas operasionalisasi trowl di laut wilayah hukum mereka.


Masyarakat dengan spontan membakar kapal trowl mini yang tertangkap oleh aparatur pemerintahan setempat. Pernah trowl mini kapal motor Batahan tertangkap di wilayah hukum Pasaman Baratm terpaksa dibawa langsung ke Padang Propinsi Sumatera Barat, karena aparat kawatir terjadi amukan massa di Air Bangis Pasaman Barat.


Ekonomi Batahan yang berbasis laut, sekarang nyaris lumpuh, tidak prospektif lagi, jika pemerintah tidak melakukan pemberdayaan dengan melakukan kebijakan khusus untuk mengangkat produktifitas tangkapan nelayan.


Di daratan, ekonomi yang dahulu mengandalkan persawahan dan perkebunan daratan, sekarang sudah bertukar dengan sawit. Perkebunan sawit dilakukan oleh investasi perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara, Perusahaan Perkebunan Negara. Perusahaan swasta dan PT PN telah membuka hutan ulayat milik masyarakat adat Batahan ribuan hektar dengan memberikan kompensasi plasma kepada masyarakat, sekalipun sampai tulisan ini dibuat masih belum final, akibat administratif yang diduga tidak rapi dan cendrung dikelola secara ugal-ugalan yang tuna peradaban. 


Bagi masyarakat yang membuka perkebunan sawit keluarga, mengalami perekenomian lumayan mendapatkan penghasilan tetap, tetapi harga sawit mengalami fluktuasi yang atraktif, tidak transparance, dan sangat tergantung pada kepentingan pihak pemodal besar. Masyarakat nyaris tanpa daya berhadapan dengan para pengusaha yang tuna moral, bernurani sakarat tersebut. 


Pemerintah juga tidak berdaya dalam membuat regulasi terkait dengan harga sawit dan pemihakan terhadap petani sawit kecil yang tidak berdaya. Sementara lahan untuk penanaman kebutuhan pokok bagi masyarakat nyaris tidak ada sama sekali, jika orang Mandailing di Kotanopan, Maga, dan Purba tidak mengirimkan beras ke Batahan, masyarakat Batahan bisa mengalami kelaparan massal.


Inilah ironis masyarakat yang tidak memiliki kepemimpinan yang berpikir untuk kepentingan jangka panjang warganya, tetapi rabun ayam dalam menatap masa depan masyarakat, dan terang dalam melihat angka dan onggokan rupiah. 


Terbukanya infrastruktur jalan ke Batahan, ditambah dengan penghasilan masyarakat dengan panen sawit membuat para penggiat dunia hitam melirik prospek dagang di kawasan Batahan. Batahan sudah kebajiran suplay narkoba, ganja dan psikotropika. Obat-obat sahabat setan ini sangat laku di kawula muda malah juga yang tua tidak dahu diri menjadi penikmat barang haram tersebut.


Banyak sekali generasi muda terpapar oleh narkoba, malah menjadi pengedar narkoba, karena bisnis ini sangat menggiurkan. Dalam beberapa waktu langsung mendapatkan uang banyak dan melakukan pencucian uang dengan membuka usaha-usaha baru dalam bentuk dunia hiburan, banyak juga aparat yang terlibat dalam kegiatan ini, menerima uang sebagai kompensasi perlindungan terhadap usaha mereka.


Namun banyak juga berkesadaran tinggi dengan berusaha menyekolahkan anaknya ke berbagai sekolah-sekolah terkemuka di Sumatera Barat dan di Suamtera Utara. Banyak yang kuliah di Politeknik Pertanian Universitas Andalas, Universitas Negeri Medan, Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Padang, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan. 


Batahan membutuhkan sosok pemimpin yang berpikir lurus, tulus, cerdas dan berpihak kepada rakyat. Potensi Batahan luar biasa. Batahan dijadikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pelabuhan Palimbungan sebuah pintu gerbang kejayaan Batahan menjadi sebuah negeri bandar.


Pelabuhan ini akan mengangkut komoditas pertanian di Kecamatan Batahan khsususnya dan Kabupaten Mandailing Natal secara umumnya. Demikian juga menerima barang yang dibawa dari berbagai pelabuhan di kawasan pantai barat Sumatera untuk dibawah ke Kabupaten Mandailing Natal. 


Untuk kepentingan rakyat yang sangat mendesak dibutuhkan warga adalah pertama, mengembangkan pebrik mini penampungan buah sawit yang dapat menstabilkan harga agar tidak terjadi monopoli dari perusahaan besar terhadap petani sawit kecil. Kedua, secepatnyalah anak Batahan yang kuliah di pertanian untuk meneliti dan melakukan studi komperatif untuk peningkatan nilai minyak sawit untuk kebutuhan masyarakat, agar minyak sawit jangan ekspor mentah lagi.


Ketiga, Batahan telah menjadi tujuan wisata untuk Kabupaten Mandailing Natal, secepatnyalah menjadikan Batahan sebagai pusat kuliner warga mandailing Natal. Kawasan tepi sungai yang sudah di DAM berasal dari dana desa, dibebaskan dari warga, ditata dengan baik sehingga kawasan tersebut menjadi pusat jajanan kuliner Batahan. Banyak sekali kuliner Batahah yang harus di pasarkan bukan hanya untuk tingkat Mandailing Natal tetapi bisa dipasarkan untuk manca negara dengan memanfaatkan digitalisasi marketing. 


Keempat, sudah waktunya pak camat dan bapak kepala desa melakukan mapping untuk industri rumah tangga dengan produktifitas kuliner dan ekonomi kreatif. Sehingga rumah tangga Batahan menjadi rumah tangga produktif. Kebiasaan ibu rumah tangga mencari kutu di siang hari, merumpi, bergunjing, dijadikan kegiatan produktif untuk menganyam tikar pandan buat sajadah dan tikar rumah tangga dengan differsifikasi motif. Membuat bedak dari tepung beras, membuat mukena, jilbab, dan aneka macam baju untuk dapat dijual baik secara online maupun secara ofline.


Kelima, para kepala desa yang ada di Sari Kenanga, Pasar Batahan, Kuala Batahan sudah waktunya berpikir untuk pembuangan akhir sampah dan pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah perlu dilakukam pemilahan organic dan anorganic. Organic bisa dijadikan untuk kompos dan bentuk lainnya. Anorganic dapat dijadikan kreatifitas bagi para remaja agar lebih produktifitas, sehingga terhindar dari paparan narkoba. 


Keenam, para tokoh masyarakat, terutama tokoh agama, dua organisasi besar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, segeralah mengembangkan lembaga pengajian, baca tulis Alquran, agar anak-anak yang terpapar gadjet terhindar dari paparan gadjet. Lantunan firman Allah SWT yang dibacakan oleh anak-anak Batahan akan dapat menangkis bala yang akan diberikan oleh Allah SWT akibat undangan dari para pemimpin dzalim dan anak negeri yang berbuat maksiyat dan narkobais.


Ketujuh, perusahaan swasta dan PT PN dan Pengusaha Sawit yang berkelas di Batahan sudah mulai berpikir untuk beasiswa bagi anak-anak Batahan yang memiliki kemampuan akademik bagus tetapi tidak memiliki pembiayaan untuk melanjutkan perkuliahan pada perguruan tinggi. 


Kedelapan, pihak pemerintah daerah dan para cendekiawan Batahan sudah waktunya berpikir untuk peremajaan lahan sawit. Perkebunan sawit yang sudah mulai tidak berbuah lagi, segeralah peremajaan lahan untuk menanam komoditas pertanian yang bakal menopang kesejahteraan dan lenagsungan hidup warga.


Ini bagian dari tanggungjawab untuk menciptakan generasi yang kuat dan tangguh di masa depan, sebagai wujud kebaikan diri kita untuk menghadap Allah, sudah banyak keuntungan dunia yang kita dapatkan dalam pengurusan masyarakat, sudah cukup dalam derita yang dialami warga dari kebijakan dan keuntungan yang sudah kita dapati, hidup kita tidaklah terlalu lama di dunia ini. Wallahu alam. Wallahu mustaan. Nashrun Minallah. (*) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad