Napak Tilas Perjuangan Muallimin Muhammadiyah Tamiang - Potret Kita | Ini Beda

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

22 Agustus 2022

Napak Tilas Perjuangan Muallimin Muhammadiyah Tamiang

MASA BERDIRI DAN PERJUANGAN

TAHUN 1940-1982

Oleh Ardinan

(Alumni Ponpes Muallimin Muhammadiyah Tamiang 1993-1997)


ALHAMDULILLAH, Pondok Pesantren (Ponpes) Muallimin Muhammadiyah Tamiang Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat, populer dengan sebutan Muallimin Tamiang, sampai hari ini masih eksis sebagai lembaga penddikan Islam terbaik.



Di tengah kompetitifnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada, Muallimin Tamiang masih diminati oleh masyarakat, bahkan kian hari semakin menunjukkan perubahan ke arah yang lebih maju, baik dari sisi fasilitas dan manajamen.


Madrasah yang berada di Tamiang (Saroha) Ujung Gading ini, telah melewati berbagai fase pasang surut, bahkan juga mengalami buka-tutup (mati). Tulisan ringkas ini mencoba sebagai pemantik awal untuk tulisan yang lebih lengkap tentang sejara Muallimin Tamiang.


A. Fase Rintisan

Muallimin Tamiang didirikan oleh Ustad Darmawi pada tahun 1940. Awalnya bukan Mualimin namanya, tetapi Darul Hadist (Putra dan Putri), dan Ustad Darmawi memang alumni Darul Hadist di India. 


Permintaan dan kebutuhan masyarakat akan pengajaran agama Islam yang bersumber kepada Al-Quran Hadist melatarbelakangi Ustad Darmawi mendirikan lembaga ini. Meski sederhana, pondok beratap daun rumbia, tidak mengurangi semangat Ustad Darmawi untuk berkhidmat di lembaga pendidikan Islam ini.


B. Fase Dinamika Politik 

Muallimin Tamiang (Darul Hadist) pernah mengalami buka-tutup (mati), di antaranya tidak terlepas dari dinamika politik Tanah Air. Pada tahun 1945 terjadi perjuangan kemerdekaan, karena kesibukan memperjuangkan tanah air, lembaga ini akhirnya beberapa tahun tutup.


Pada tahun 1957 Darul Hadis bangkit kembali dan bertukar nama dengan SGB Muallimin Tamiang. Selain Ustad Darmawi, tokoh yang mendirikan SGB ini ada Nurma Tajab (alm) dan Dustur Jalil (alm). Tidak beberapa lama kemudian, tepatnya pada tahun 1959 terjadi pergolakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan ustad Darmawi bergabung dengan Hisbullah (ada juga menyebut Hizbul Wathon).


Kesibukan Ustad Darmawi meningkat. Beliau pindah ke Jakarta dan meniggal di sana. SGB Mu’llimin pun ketika terjadi Pergolakan PRRI mengalami tutup kembali. 


C. Fase Pertumbuhan dan Kemajuan    

Pada tahun 1963 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tamiang kembali membuka Muallimin Muhammadiyah Tamiang, perguruan 6 tahun. Untuk memimpin Muallimin Tamiang, dengan menjemput seorang tokoh asal Padang Panjang ke Medan. Beliau adalah Nuryufa Dt. Bijo Anso, seorang Mahasiswa UISU Medan dan memiliki semangat tinggi.


Selain mahasiswa, Nuryufa juga tukang becak di Medan (tukang becak di Medan umumnya menjadi pekerjaan tambahan mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan kuliah pada waktu itu). Di tangan dingin Nuryufalah, Muallimin berkembang pesat.


Beliau adalah seorang pengelola pendidikan yang terkenal tegas dan disiplin demi keberhasilan santri-santrinya. Inilah yang diakui oleh para murid-muridnya, keteladanan luar biasa dari seorang Nuryufa Dt. Bijo Anso.


Pada masa ini, siswa Muallimin bukan hanya dari Ujung Gading sekitar lagi, tapi dari berbagai penjuru di Pasaman Barat, seperti Kinali, Maligi, Sukamenanti, Paraman Ampalu, Kasik Putih dan berbagai daerah lainnya. Bahkan, pelajar Muallimin juga berdatangan dari Batipuh, Barus, Sibolga, dan Sontang Pasaman.


Untuk tertib Administrasi, pada tahun 1971 didaftarkanlan Muallimin Muhammadiyah Tamiang ke PP Muhammadiyah. Dan terdaftar dengan nomor 2363/N/IV.81/3-39/1971. 


Setelah memimpin Muallimin beberapa puluh tahun, di tengah kemajuan Muallimin pada masa itu, pada tahun 1982, Nuryufa Dt. Bijo Anso terpilih menjadi anggota DPRD Pasaman (termasuk Pasbar ketika itu).


Sehingga mulai disibukkan oleh aktivitas sebagai wakil rakyat, dan bahkan akhirnya juga pernah menjadi anggota DPRD Sumbar. Memang Muhammadiyah sebagai organisasi Modern, memperslahakan kader-kader terbaiknya untuk juga berkhidmad di bidang lain, selain pendidikan. 


D. Penutup

Sebagai tulisan tentang sejarah, tentu tulisan ini terbuka untuk dikoreksi, dilengkapi dan ditambahkan, apalagi dengan jelas tertulis rentang 1940-1982. Tulisan ini hanya pemancing awal unutk tulisan yang lebih lengkap dari para guru-guru, dan senior kami di Muaallimin Tamiang.


Ditaksir sudah lebih dari seribuan orang menamatkan pendidikannya dari Muallimin, baik tingkat tsanawiyah dan aliyah, maupun keduanya. Mereka berkiprah di berbagai lini kehidupan, baik sebagai pemimpin Muhammadiyah maupun pemimpin umat dan institusi pemerintahan. Sekadar menyebut beberapa nama, alumnu itu di antaranya Dr. Farid Wajdi, Dr. Hermawati Lubis, Dr. Faisal Zaini Dahlan, Ahmad Nurhuda, M.Si (putra Nuryufa Dt. Bijo Anso), Afdol Lubis, dan lain-lain.***


Sumber: 

1. Wawancara pribadi dengan ustad Abdul Mukti Sihaloho (Pimpinan Muallimin) pada tahun 2004

2. Pidato sambutan Ketua PCM Tamiang, Irham, S.Ag pada peresmian Masjid At Tanwir, Hj. Halimah Muallimin Tamiang, Ahad 21 Agustus 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad